Vanya menelan ludah berat. Jantungnya mendadak berdebar lebih kencang. Jay melanjutkan lagi dengan nada rendah. “Feromon kamu sudah melewati batas penekan,” katanya lagi. “Kalau nggak dilepas dengan cara yang benar, tubuhmu akan terus bereaksi seperti yang kamu alami selama ini.” Vanya mengangguk pelan. “Aku ngerti maksud kamu,” bisiknya, suaranya gemetar tapi penuh kesadaran. Jay diam sejenak. Lalu ia mencium kening Vanya pelan, bibirnya menyentuh kulit yang masih hangat oleh uap dan aroma tubuh Vanya. “Oke, aku percaya sama kamu,” ucap Vanya lirih, hampir seperti menyerah pada dirinya sendiri. Jay menarik napas dalam. Tangannya yang memijat pergelangan kaki Vanya perlahan naik, menyusuri betis, lalu paha dalam dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. “Ngh ….” Vanya menutup mata, napasnya tersengal pelan saat sentuhan Jay semakin dekat ke area yang sensitif. “Jay, cium aku,” bisiknya, suaranya campur antara takut dan keinginan. Jay men
Last Updated : 2026-02-06 Read more