LOGINVanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya.Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan.Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan.Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—sem
Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat
Vanya duduk di ranjang kamar utama mansion, selimut tebal masih melorot di pinggangnya. Matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin, tapi pikirannya melayang jauh. Pantai putih itu … ombak kecil yang menyapa kaki … angin laut yang lembut mengusap rambut … Jay yang tersenyum tipis saat ia meny
Vanya menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung jatuh pelan. Ia mundur setengah langkah, nampan teh di tangannya gemetar hingga hampir jatuh. “Jay … dia mau kurung aku?” bisiknya tidak bersuara. Vanya menarik napas pendek, lalu mendorong pintu lebar-lebar tanpa ketuk lagi. Bunyi pin
Cahaya sore menyelinap pelan melalui celah tirai tebal kamar utama mansion. “Mmh ….” Vanya terbangun dengan perlahan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka penuh. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaran. Kasur masih empuk, selimut tebal menyelimuti tubuhnya hin







