Share

CHAPTER 88.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 19:56:06
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup.

Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja.

Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan.

Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 90.

    Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 89.

    Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 88.

    Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 87.

    Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat yang menyebar perlahan dari perut ke dada, ke leher, ke pipi. Jantungnya berdegup kencang, tidak teratur, seperti ada yang menekan dari dalam. Keringat tipis muncul di pelipis dan punggungnya. “Feromonku … aktif lagi,” gumam Vanya pelan. Vanya berhenti mendadak di sudut koridor. Ia bersandar ke dinding, tangan kanannya menekan dada, mencoba menahan napas yang semakin cepat. Panas tubuhnya tidak sekuat biasanya, tapi tetap ada. Aroma manis mulai samar-samar tercium dari tubuhnya sendiri. Tajam dan menggoda. Ia menutup mata, mencoba latihan pernapasan yang ia pelajari, berulang hingga empat kali. Panas di tubuhnya perlahan mereda, tidak hilang total, tapi intensitasnya turun. Degup

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 86.

    Vanya duduk di ranjang kamar utama mansion, selimut tebal masih melorot di pinggangnya. Matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin, tapi pikirannya melayang jauh. Pantai putih itu … ombak kecil yang menyapa kaki … angin laut yang lembut mengusap rambut … Jay yang tersenyum tipis saat ia menyuapi tiramisu di pesawat. Dan sebuah janji “Nanti kita balik lagi” yang terucap di helipad sebelum pesawat lepas landas. Semuanya terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk benar. Dan sekarang, mimpi itu sudah berakhir. Vanya menarik napas dalam, tapi dadanya tetap sesak. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba menahan getaran kecil di tubuhnya. “Padahal kita sudah janji …” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Kita balik lagi ke sana … suatu hari nanti.” Air mata jatuh lagi, pelan, tanpa suara. Ia hanya diam, menatap kosong, seperti orang yang kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pegang erat-erat. Tok. tok. Ketukan pelan di pintu utama kamar. Vanya menoleh. Rahangnya me

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 85.

    Vanya menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung jatuh pelan. Ia mundur setengah langkah, nampan teh di tangannya gemetar hingga hampir jatuh. “Jay … dia mau kurung aku?” bisiknya tidak bersuara. Vanya menarik napas pendek, lalu mendorong pintu lebar-lebar tanpa ketuk lagi. Bunyi pintu membentur dinding membuat Jay dan Helena langsung menoleh. Jay duduk di kursi besar belakang meja kerja, tangannya masih di atas tablet. Helena berdiri di sisi meja, ekspresinya langsung berubah tegang. Vanya melangkah masuk satu langkah. Nampan teh di tangannya bergetar keras hingga teh hampir tumpah. “Fasilitas privat itu apa maksudnya?” tanyanya dingin, tapi suaranya bergetar hebat. “Kalian mau kurung aku?” Hening sesaat. Helena membuka mulut, mencoba bicara halus. “Nyonya Vanya, ini bukan—” “Aku dengar sendiri tadi,” potong Vanya tajam, matanya langsung ke Jay. “Jangan bohong lagi.” Jay diam sebentar. Ia hanya menatap Vanya dengan mata yang dingin dan tak bergeming. Lalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status