LOGIN
Suara langkah kaki Nyonya Hana yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu angkuh, menggema di ruang tamu kediaman Dewangga yang megah namun dingin.
"Syifa, selagi saya di luar negeri, kamu bantu urus dua majikanmu lagi yang akan pulang sebentar lagi," ucap Nyonya Hana dingin tanpa menoleh. Syifa mendongak sedikit, binar kebingungan tertangkap di matanya. Selama ini ia hanya tahu rumah ini milik keluarga besar Dewangga, namun hanya Nyonya Hana yang wajahnya akrab di ingatan. "Siapa, Nyonya?" tanya Syifa penasaran. "Namanya Cleo dan Zero. Mereka seumuran denganmu. Oia, Bagaimana kondisi ibumu? Sudah membaik?" Tanya wanita itu sambil mengambil tas nya. "Sudah, Nyonya. Terima kasih banyak... semua berkat bantuan biaya rumah sakit dari Nyonya," gumam Syifa, kembali menundukkan kepala sebagai tanda hormat yang mendalam. "Kalau begitu, gantikan tugas ibumu dengan baik selagi kamu libur kuliah. Jangan buat saya kecewa. Mereka akan tiba sebentar lagi," tegas Hana. "Nyonya tidak ingin bertemu Tuan Muda dulu sebelum berangkat?" tanya Syifa, alisnya bertaut heran melihat seorang ibu yang bahkan tidak ingin menyambut kepulangan putranya sendiri. Nyonya Hana menghela napas panjang, gurat kelelahan terpancar dari wajahnya yang tetap cantik di usia senja. "Tidak. Saya sudah lelah menghadapi mereka. Urus saja mereka sebagaimana kamu mengabdi padaku." Tanpa kata pamit, Nyonya Hana melangkah keluar menuju mobil jemputannya. Keheningan itu tak bertahan lama. Tak sampai lima belas menit, suara raungan mesin mobil membelah kesunyian halaman. Syifa bergegas menuju pintu depan. Pintu terbuka lebar. Dua sosok pria tinggi dengan garis wajah yang identik namun aura yang bertolak belakang masuk ke dalam ruangan. Pandangan keduanya langsung mengunci Syifa yang berdiri mematung di dekat pilar. "Jadi..." Cleo memulai, menyugar rambutnya ke belakang sementara sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Ini 'mainan' baru yang ditinggalkan Mama untuk kita?" "Siapa namamu?" suara Zero berat, dingin, dan menuntut. "Sy-syifa, Tuan Muda," jawab Syifa terbata. "Syifa..." Zero mengulangi nama itu. "Mulai hari ini, hidupmu bukan lagi milik Mama. Tapi milik kami." Syifa berusaha mengabaikan, tapi jelas tangan nya gemetar pelan dengan ucapan pria itu. "Silakan masuk, Tuan Muda. Nyonya baru saja berangkat ke bandara sepuluh menit yang lalu," ucap Syifa dengan suara selembut mungkin, berusaha meredam ketegangannya sendiri. Cleo, yang tengah melepas kacamata hitamnya, mendengus sinis. "Aku tidak peduli dengannya. Wanita itu hanya sibuk memarahi, mengontrol, dan menurutku... dia bahkan lebih hina dari peliharaan di rumah ini." Deg. Dada Syifa berdenyut nyeri. Bagaimana mungkin seorang anak bicara begitu kejam tentang ibu kandungnya? Syifa menatap Cleo dengan mata membelalak tak percaya. Saat ia mengalihkan pandangan ke arah Zero, ia justru mendapati tatapan yang jauh lebih dingin. Zero hanya diam, namun sorot matanya yang setajam elang seolah membenarkan setiap kata-kata kasar kembarannya. "Aku lapar," potong Zero. "Buatkan makanan lain. Aku tidak suka menyentuh makanan yang sudah dimasak lebih dari lima belas menit." "Tapi Tuan, makanan ini masih hangat—" Brak! Cleo menghantam meja makan dengan telapak tangannya. Ia melangkah mendekat, mengurung tubuh mungil Syifa di antara meja dan tubuh tegapnya yang menjulang. "Kau menolak? Hah? Dengar, Pelayan. Di rumah ini, kata-kataku dan Zero adalah hukum." Syifa gemetar. Aroma maskulin yang tajam dari tubuh Cleo justru terasa mencekik. Ia menoleh ke arah Zero untuk meminta bantuan, namun Zero justru menarik kursi dengan tenang, duduk sembari memperhatikan penderitaan Syifa seolah itu adalah hiburan pembuka. "Waktumu tinggal empat belas menit, Syifa," ucap Zero sambil mengetuk-ngetuk permukaan jam tangan mewahnya. "Atau kau ingin melihat bagaimana cara kami menghukum pelayan yang pembangkang?" Dengan tangan gemetar, Syifa mulai membereskan piring-piring itu. Namun, saat ia hendak membawa nampan besar ke dapur, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya dengan cengkeraman yang kuat dan tak tergoyahkan. Bukan Cleo, melainkan Zero yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Tunggu," bisik Zero. Ia mengambil sepotong daging dari piring, lalu menyodorkannya paksa ke depan bibir Syifa. "Sebelum kau memasak yang baru, telan ini. Jika kau tidak keracunan dalam satu menit, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak membuangmu malam ini." Syifa menatap potongan daging itu dengan air mata yang mulai menggenang. Tanpa ragu, Syifa membuka mulutnya dan memakan daging itu di hadapan mereka berdua. Ia mengunyahnya perlahan, menelan rasa takutnya bersama makanan itu, lalu menghempaskan tangan Zero dari pergelangan tangannya. "Saya akan memasakkan hidangan baru, Tuan Muda. Dan saya pastikan, setelah ini Anda tidak akan punya alasan lagi untuk menghina makanan." Syifa berbalik menuju dapur tanpa menunggu jawaban. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar lebih tertarik daripada mengancam, sementara Zero terus menatap punggung Syifa dengan tatapan yang mulai berubah—dari meremehkan menjadi penasaran yang berbahaya. "Sepertinya," gumam Cleo sambil memainkan kunci mobil di jemarinya, "mainan kita kali ini punya nyali yang cukup besar." "Kita lihat," sahut Zero datar, namun sudut bibirnya membentuk senyum tipis untuk pertama kalinya. "Sampai kapan dia bisa bertahan.""Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" "Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. "Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa
"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. "Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. "Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. "Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. "Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be
Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. "Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. "Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. "Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber
Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. "Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. "Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak
"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. "Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. "Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i
Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. "Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. "Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." "Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan.







