Share

Bab 77 - Rasa Baru

Author: Pipin
last update publish date: 2026-04-19 20:31:50

"Sakit... sakit sekali," batin Syifa meronta. Kesadarannya seolah berada di ambang batas antara hidup dan mati. Setiap saraf di tubuhnya menjerit, namun di balik kabut rasa sakit itu, ia merasakan genggaman tangan Dewangga yang tak kunjung lepas—seolah tangan itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dibawa arus kegelapan.

Dengan sisa tenaga yang nyaris nol, Syifa memejamkan mata rapat-rapat, mengumpulkan seluruh nyawa yang masih tersisa di dadanya, dan melakukan dorong
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 86 - Penolakan

    "Jangan mengira kalau gadis itu bukan siapa-siapa. Dengan kondisimu yang sekarang, kamu tentu tidak akan bisa menggantikan posisi Papa ke depannya tanpa dukungan besar," tegas Dewangga. ​Zero mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Pa, aku sudah sembuh. Tubuhku memang pernah rapuh, tapi otakku tidak. Aku masih mampu berpikir sendiri." ​"Kalau begitu, bangunlah. Perusahaan yang akan Papa kembangkan untukmu kelak hanya akan kokoh jika kamu berdiri bersama keluarga Wijaya di sampingmu," balas Dewangga tanpa menoleh, matanya tetap lurus menatap jalanan di depan. ​"Pa... apa ini hukuman?" tanya Zero lirih. Ia merasa seolah dirinya hanyalah pion dalam papan catur sang ayah. ​"Bukan hukuman, Zero. Tapi ini adalah jalan hidup baru yang harus kamu tempuh," jawab Dewangga dengan nada datar, namun sarat akan penekanan. ​Zero menghela napas panjang, sebuah sesak menyeruak di dadanya. "Tapi bagaimana kalau pernikahan aku kelak berakhir seperti hubungan Papa dan Mama? Bercerai? Kalau Papa da

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 85 - Tawanan Takdir

    Zero mendesah pasrah. Ia tahu perlahan ada belenggu tak kasat mata yang akan mengunci pergelangan kakinya. Ia menatap sang ayah, Dewangga. Pria itu pasti sudah merencanakan segalanya dengan matang, jauh sebelum Zero sanggup berdiri di atas kakinya sendiri.​"Minggu depan," jawab Dewangga mantap, tanpa keraguan sedikit pun.​Kakek Wijaya tersenyum puas. Di sampingnya, Avera tampak memeluk lengan kakeknya dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan murni. Namun, bagaimana dengan Zero? Ia merasa terasing, seolah menjadi tamu di pesta kematiannya sendiri.​Selesai makan malam, kedua keluarga itu memberikan ruang bagi calon pengantin ini untuk berbicara berdua. Avera menuntun Zero menuju rooftop restoran. Avera meraih tangan Zero, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan posesif.​"Kamu marah dengan pertunangan ini?" tanya Avera pelan.​Sekalipun ia sudah tahu jawabannya, Avera tetap ingin mendengarnya langsung. Ia siap terluka untuk kesekian kalinya, asalkan ia bisa merasaka

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 84 - Rencana pertunangan

    Hari dimana ditentukan tanggal pertunangan mereka, Avera masih sama seperti sebelumnya. Bahkan setelah sekian lama mereka tidak berjumpa, gadis itu tetap saja bergelayut manja di lengan Zero, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Zero hanya bisa mematung; ia tahu, tidak ada ruang untuk lari dari jaring perjodohan yang sudah ditenun sejak lama ini.​"Zero, sesuai kesepakatan kita beberapa tahun lalu, sekarang kamu sudah siap, bukan? Menjadi tunangan dan suami dari cucu kesayanganku, Avera?" tanya Kakek Wijaya dengan nada yang lebih mirip perintah daripada pertanyaan.​Di meja restoran mewah itu, suasana terasa sesak. Avera duduk tepat di samping Dewangga. Di sana juga ada Hana, mantan istri Dewangga, yang ikut bergabung. Dewangga memang sengaja mengundangnya; ia tidak ingin momen sepenting ini dilewatkan oleh orang tua kandung Zero, meski hubungan mereka telah lama karam.​"Aku siap, Kek... Om," jawab Avera cepat. Matanya berbinar menatap Zero.​Sekalipun Avera tahu pria ini tid

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 83 - Bukan siapa-siapa

    "Kamu tahu, kenapa kita seperti orang asing di sini, dan dia ratunya?" tanya Cleo singkat, saat melihat saudara kembarnya melangkah masuk kekamar.​"Kamu masih marah karena penerbangan Papa tertunda," tebak Zero, ia duduk di sofa tunggal di sudut kamar, memperhatikan kembarannya.​"Tentu saja. Kamu tahu sendiri, aku hanya butuh dia datang. Tapi tetap saja, dia memilih telat daripada datang jauh-jauh hari," geram Cleo. Ia bangkit sedikit, menyangga tubuh dengan siku. "Padahal aku tidak keberatan kalau mantan benalu itu juga ikut di hari kelulusanku. Ah, dia benar-benar mengambil semuanya."​"Mengambil apa, Cleo? Kau tahu bukan, sejak awal kita bukan siapa-siapa bagi Papa?"​Cleo terdiam, namun Zero terus melanjutkan dengan nada santai yang menusuk. "Papa perhatian, dan mungkin menangis untukku kemarin, tapi itu bukan karena cintanya. Itu hanya rasa tanggung jawab semata sebagai ayah. Kita tidak kehilangan apa pun, kau paham? Karena sejak awal, apa

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 82 - Babak Baru

    Begitu melangkahkan kaki di selasar mansion mewah itu, Cleo disambut oleh pemandangan yang sangat ia kenali, namun terasa asing secara atmosfer. Bi Sumi—kepala pelayan—beserta deretan pelayan lainnya berdiri rapi. Di tengah mereka, seorang babysitter berseragam premium menggendong bayi yang tampak terlelap. Disana juga ada Zero, yang masih terlihat belum sehat sepenuhnya.​"Rumah ini jadi lebih... 'panas', ya? Apa ini karena penghuninya berpura-pura menjadi ratu di sini?" ledek Cleo. ​Dewangga yang berjalan di samping anaknya hanya terdiam. Emosinya sedikit tersulut, namun ia memilih menelan harga dirinya. Ia tidak ingin memicu konflik baru setelah keterlambatan di New York tempo hari.​Saat Dewangga melangkah masuk lebih dulu untuk menyapa Zero, Cleo sengaja memperlambat langkahnya saat berpapasan dengan Syifa yang berdiri di dekat pilar.​"Kamu terlihat lebih baik... Syifa. Apa aku perlu memanggilmu 'Mama' sekarang?" bisik Cleo tepat di telinga Syifa. ​Hati Cleo memang sedang terb

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 81 - Kekecewaan

    ​Enam bulan terakhir adalah fase paling berat sekaligus paling mendewasakan dalam hidup Cleo. Tanpa Zero di sisinya, ia harus bergelut dengan jadwal kuliah yang padat dan sif malam di restoran yang menguras fisik.Ia bukan lagi pemuda yang mengeluh karena bau sabun; tangannya kini kapalan, dan ia belajar cara mengatur uang hingga sen terakhir agar bisa membayar sewa apartemen kecilnya.​Sementara itu, di Indonesia, Dewangga benar-benar tenggelam dalam peran barunya. Melalui kiriman foto dari Hans, Cleo melihat ayahnya begitu bahagia menggendong adik perempuan mereka, Aura. Ada rasa hangat, tapi juga lubang besar di hati Cleo. Ia merasa posisinya dan Zero perlahan mulai tergeser oleh keluarga "sempurna" yang baru ini.Di hari itu, hari kelulusan nya, ​Cleo berdiri di tengah kerumunan wisudawan universitasnya. Jubah toganya terasa berat, bukan karena kainnya, tapi karena beban harapan yang ia bawa. Sejak sebulan lalu, ia sudah mengirimkan undangan resmi kepada ayahnya. Ia ingin membukti

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 65 - Rindu?

    Hari itu, tepat usia kandungan Syifa delapan bulan, dan empat bulan berlalu sejak insiden berdarah di kaki gunung itu. Meski kakinya belum pulih seratus persen, Dewangga tetaplah pria keras kepala yang tidak bisa dipisahkan dari tumpukan pekerjaannya.​Syifa menatap ponselnya dengan geram. Ia baru

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 64 - Menikmati?

    "Semua butuh waktu, Syifa. Kamu tahu itu. Setelah semua yang aku lakukan..." Kalimat Dewangga menggantung, suaranya melemah seiring dengan kelopak matanya yang mulai memberat. Pengaruh obat bius dosis tinggi mulai menarik kesadarannya kembali ke kegelapan.​Syifa menarik napas panjang, membiarkan d

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 51 - Akan ku lakukan apapun

    Dewangga melangkah melewati lorong rumah sakit dengan kemeja putih yang kini berubah menjadi kanvas merah pekat. Darah Syifa yang mengering di kain itu membuat para perawat dan pengunjung menyingkir dengan tatapan ngeri. Namun, Dewangga tidak peduli. Baginya, hanya ada satu hukum: gadis di dalam sa

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 41 - Kekacauan Di kampus

    Di luar ruangan perpustakaan, Hana mendengarkan semuanya.​"Menghancurkan Dewangga? Ah, bagus sekali, Syifa. Aku ingin melihat bagaimana pria yang sudah hidup dengan keangkuhan selama puluhan tahun itu akhirnya berlutut di kaki seorang pelayan," bisik Hana penuh dendam.​Ia mero

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status