Pagi itu, cahaya kelabu keperakan perlahan menembus celah tirai kamar, membawa serta hawa sedingin es yang langsung menusuk kulit begitu Roselyn membuka mata.Ia bergerak pelan, menatap langit-langit kamar batu yang asing. Pandangannya pun turun ke jemari kiri. Di sana, batu ruby pada cincin milik Grand Duchess pertama berkilau pekat, memantulkan sisa cahaya lilin yang hampir padam. Warnanya begitu merah, mengingatkan Roselyn pada sepasang netra yang semalam menatapnya dengan ketulusan yang menggetarkan hati.Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan masuk dengan nampan air. "Saya akan membantu bersiap, Lady," katanya singkat.Roselyn pun membasuh wajah, lalu duduk di tepi ranjang. Pelayan itu pun menyisir rambutnya. Kasar. Beberapa kali ia mengeryit saat rambutnya seakan tertarik. Namun, Roselyn tidak bersuara. Ia sudah terlalu terbiasa membaca niat di balik tangan orang lain.“Mereka belum menerimaku yang baru datang. Maklumi kali ini,” pikirnya.Setelah selesai, pelayan itu
Baca selengkapnya