เข้าสู่ระบบTahun ketiga Menjadi Duchess D’Arest.
Roselyn masih ingat warna gaun yang dikenakannya malam itu, merah tua, pilihan Derrick, karena katanya warna itu membuat sang istri tampak "indah untuk dipamerkan." Ia berdiri di depan pintu ruang kerja sang suami, menunggu hampir satu jam sebelum akhirnya diizinkan masuk.
Di dalam, Derrick duduk di balik meja dengan s
Ketika binar mentari pagi menyelinap di antara celah pembatas sihir di langit menara, Roselyn perlahan membuka mata. Sentuhan hangat sinar matahari terasa lembut.Sontak rasa nyeri di area pinggang, mengingatkan Roselyn pada kegilaan manis yang mereka lalui di bawah hamparan bintang semalam. Sambil mengulas senyum tipis, Roselyn mengulurkan tangan, meraba sisi ranjang di sebelah.Kosong. Kasur di sisi itu sudah mendingin.Wanita itu buru-buru duduk tubuh dan duduk. Semburat kekecewaan terpancar di matanya. Sejenak ia berpikir jika dirinya telah ditinggal sendiri usai bercinta, sama seperti di kehidupan sebelumnya.Sret.Roselyn menoleh ke suara tersebut. Setangkai bunga mawar merah yang mekar sempurna, dengan kelopak ya
Langkah kaki Kaelus dan Roselyn tampak beriringan. Mereka terburu-buru menyusuri tangga melingkar di sudut terdalam kastil.Roselyn sesekali harus mengangkat sedikit gaun birunya agar tidak tersandung, sementara tangan kekar Kaelus menggenggam jemarinya dengan erat. Mereka terus naik.Wanita berambut cokelat itu berhenti sejenak, menengok ke celah kotak di dinding, terlihat menara pengawas dari luar. Padahal tempat itu merupakan batas tempat tertinggi yang bisa diakses oleh para prajurit."Kael, apa masih jauh?"“Kau lelah, Rose? Mau aku gendong?"“Ti–tidak usah." Sang Grand Duchess memalingkan wajah, tetapi suaminya dapat melihat jelas telinganya memerah.
Ketenangan langsung memenuhi seisi hall utama setelah pelayan memperlihatkan lukisan Roselyn di taman mawar. Para ksatria Valthorne yang berjaga pun kembali meletakkan tangan mereka pada gagang pedang, bersiap jika sewaktu-waktu menerima perintah.Sebab, dengan penghinaan seperti itu, Derrick bisa saja langsung diseret ke penjara bawah tanah. Dan andaipun itu terjadi, tidak akan ada satu pun orang yang berani menentang.Di sisi lain, Roselyn masih termenung Ditatapnya potret tersebut dengan ekspresi kesal. Ia bisa merasakan bagaimana Derrick sengaja memancing emosi Kaelus agar suaminya itu mengamuk di hari pernikahan mereka sendiri.Namun, alih-alih marah, Kaelus justru melepaskan kekehan ringan. Sontak ketegangan perlahan mencair.Sang Grand Duke menegakkan tubuh, lalu
Lonceng kastil Valthorne berdentang tujuh kali, suaranya memecah kabut pagi yang menyelimuti seluruh Utara. Hari yang dinanti, sekaligus hari yang paling dihindari oleh faksi kaisar, akhirnya tiba.Aula utama Valthorne telah disulap menjadi tempat pemberkatan yang sakral. Namun, berbeda dengan pernikahan di Ibu Kota yang dipenuhi hiasan mewah, altar pernikahan Utara cukup sederhana.Tidak banyak bunga yang siapkan. Memang hanya gelintir bunga yang bisa bertahan hidup di tanah Valthorne yang membeku.Untungnya, sebagai ganti, tanaman rambat palsu dilingkarkan ke pilar-pilar. Kristal kecilnya di setiap daunnya berkilauan, mirip tempat magis yang ada di legenda.“Anda terlihat sangat cantik, Lady," ucap seorang pelayan tua, sembari memasangkan veil.
Satu jam sebelumnya.Makan malam itu benar-benar sebuah bencana bagi Vivianne. Alih-alih menikmati hidangan, ia justru harus duduk berjam-jam menghadapi ocehan Vogard Sirius.Karena Kaelus mendadak mangkir dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Alhasil, Vivianne terpaksa menjadi tumbal untuk menggantikan sang adik menyambut tamu.Sepanjang perjamuan, Vogard tidak berhenti mendesak untuk dipertemukan dengan sang putri.Muak dengan suasana perjamuan yang menyesakkan, Vivianne pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar."Sampai kapan aku harus menghadapi pria tua itu?" gumam Vivianne Valthorne seraya memijat pelipis."Mohon bersabar, Lady Vivianne. Count Sirius hanya
Langkah kaki Derrick bergema pelan di sepanjang koridor kastil yang sunyi. Pria bermata biru itu berjalan sendirian.Hawa dingin malam itu begitu menusuk, tetapi tidak mampu mendinginkan kekesalan yang sejak dua hari lalu membakar dada.Sudah dua malam ia dan Count Vogard menginap di kastil ini, tetapi sehelai rambut Roselyn saja belum berhasil dilihat.Setiap kali mereka berkumpul di ruang makan, kursi di sebelah Kaelus selalu kosong.“Sialan, sibuk apa yang sampai dua hari? Cecunguk itu pasti sengaja menyembunyikan Roselyn,” gumamnya sambil mengepalkan tangan.Ia tidak mencintai Roselyn, setidaknya itu yang diyakini. Wanita itu terlalu penurut, mudah ditebak, dan bisa dimiliki tanpa berusaha. Sayangn
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn merasakan seluruh persendiannya mendadak kaku, seolah hawa dingin Utara baru saja membekukan darahnya dalam sekejap.Aira. Wanita yang disebut Derrick sebagai ‘mainan saat bosan’, sosok yang me
Pagi itu, cahaya kelabu keperakan perlahan menembus celah tirai kamar, membawa serta hawa sedingin es yang langsung menusuk kulit begitu Roselyn membuka mata.Ia bergerak pelan, menatap langit-langit kamar batu yang asing. Pandangannya pun turun ke jemari kiri. Di sana, batu ruby pada cincin milik
Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar."Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedan







