Roselyn terbaring di ranjang, kaki dan tangannya dirantai.Derrick benar-benar menambatkan seluruh geraknya di atas kasur. Selama dua hari terakhir, kaki wanita itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memijak lantai.“Aku membawakan yogurt madu kesukaanmu, Rose,” tutur Derrick sembari berjalan mendekat.Roselyn enggan menjawab. Netra cokelatnya terbuka perlahan, memilih menatap langit-langit kamar yang temaram. Tidak pernah ia sangka bahwa suatu hari akan merindukan kehangatan sederhana saat sinar mentari menyentuh kulit. Namun, lebih dari itu, ia merindukan Kaelus.“Makanlah, meski sedikit. Bibirmu juga pecah. Dehidrasi hanya akan memperburuk kondisimu, Rose.”
Read more