LOGINSatu jam sebelumnya.
Makan malam itu benar-benar sebuah bencana bagi Vivianne. Alih-alih menikmati hidangan, ia justru harus duduk berjam-jam menghadapi ocehan Vogard Sirius.
Karena Kaelus mendadak mangkir dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Alhasil, Vivianne terpaksa menjadi tumbal untuk menggantikan sang adik menyambut tamu.
Lonceng kastil Valthorne berdentang tujuh kali, suaranya memecah kabut pagi yang menyelimuti seluruh Utara. Hari yang dinanti, sekaligus hari yang paling dihindari oleh faksi kaisar, akhirnya tiba.Aula utama Valthorne telah disulap menjadi tempat pemberkatan yang sakral. Namun, berbeda dengan pernikahan di Ibu Kota yang dipenuhi hiasan mewah, altar pernikahan Utara cukup sederhana.Tidak banyak bunga yang siapkan. Memang hanya gelintir bunga yang bisa bertahan hidup di tanah Valthorne yang membeku.Untungnya, sebagai ganti, tanaman rambat palsu dilingkarkan ke pilar-pilar. Kristal kecilnya di setiap daunnya berkilauan, mirip tempat magis yang ada di legenda.“Anda terlihat sangat cantik, Lady," ucap seorang pelayan tua, sembari memasangkan veil.
Satu jam sebelumnya.Makan malam itu benar-benar sebuah bencana bagi Vivianne. Alih-alih menikmati hidangan, ia justru harus duduk berjam-jam menghadapi ocehan Vogard Sirius.Karena Kaelus mendadak mangkir dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Alhasil, Vivianne terpaksa menjadi tumbal untuk menggantikan sang adik menyambut tamu.Sepanjang perjamuan, Vogard tidak berhenti mendesak untuk dipertemukan dengan sang putri.Muak dengan suasana perjamuan yang menyesakkan, Vivianne pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar."Sampai kapan aku harus menghadapi pria tua itu?" gumam Vivianne Valthorne seraya memijat pelipis."Mohon bersabar, Lady Vivianne. Count Sirius hanya
Langkah kaki Derrick bergema pelan di sepanjang koridor kastil yang sunyi. Pria bermata biru itu berjalan sendirian.Hawa dingin malam itu begitu menusuk, tetapi tidak mampu mendinginkan kekesalan yang sejak dua hari lalu membakar dada.Sudah dua malam ia dan Count Vogard menginap di kastil ini, tetapi sehelai rambut Roselyn saja belum berhasil dilihat.Setiap kali mereka berkumpul di ruang makan, kursi di sebelah Kaelus selalu kosong.“Sialan, sibuk apa yang sampai dua hari? Cecunguk itu pasti sengaja menyembunyikan Roselyn,” gumamnya sambil mengepalkan tangan.Ia tidak mencintai Roselyn, setidaknya itu yang diyakini. Wanita itu terlalu penurut, mudah ditebak, dan bisa dimiliki tanpa berusaha. Sayangn
Eden menuntun Derrick dan Vogard menuju ruang tamu di sayap kiri. Mereka sempat membayangkan sebuah aula dengan karpet beludru merah atau deretan patung marmer yang biasa memanjakan mata para bangsawan tinggi di Ibu Kota.Nyatanya, ruangan itu teramat polos. Sofa kulit di sana berkerut dan warnanya sudah memudar. Hanya ada satu jendela, dan menghadap ke sisi kastil, itu pun minim terkena sinar mentari.Vogard Sirius duduk dengan tongkat di antara kedua lutut, mengetuk-ngetuk pelan ke lantai batu. Matanya memperhatikan sekeliling, mencari hiasan, karya seni, atau setidaknya karpet yang layak.Tidak ada. Bahkan gordennya pun berwarna abu-abu kusam."Tempat macam apa ini," cibirnya.“Apa yang kau harapkan, Coun
Sejauh mata memandang, wilayah utara Valthorne hanya menyajikan hamparan putih yang sunyi dan mematikan.Angin berembus kencang, menerbangkan kristal es tipis yang langsung menusuk kulit. Di tengah padang es yang beku itu, rombongan tersebut telah menanti.Di garis terdepan, tampak dua pria berkuda tampak mulai kehilangan kesabaran. Jubah bulu yang mereka kenakan tidak mampu sepenuhnya suhu yang teramat dingin.Derrick D’Arest dan Vogard Sirius. Dua pria itu kompak menyipitkan mata. Berusaha mengintip siluet yang datang dari arah kastil.“Akhirnya Pengecut itu datang,” tukas Vogard.“Ayo segera pergi setelah urusan kita beres, Count.”&ldq
Roselyn langsung bangkit dari ranjang. Ia menyembunyikan surat dari sang ayah di bawah bantal, lalu berjalan ke arah pintu.Begitu terbuka, sosok tegap Kaelus langsung menyambut. Pria itu masih mengenakan jubah, tetapi garis wajahnya tampak lebih tegang dibanding sebelum pergi tadi.Ia berdiri di sana, menatap wajah Roselyn dengan cemas."Kael? Ada apa?"Tanpa sepatah kata, Kaelus melangkah masuk dan langsung menutup pintu kamar dengan rapat."Aira Belladonna. Kenapa wanita itu bisa ada di kastilku?"“Vivianne menginginkannya masuk.”"Katanya dia temanmu," ungkap Kaelus.
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k
Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siks
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper







