“Sebenarnya sejak kapan kau curiga aku juga kembali ke masa lalu?” tanya Roselyn sembari bersandar di dada Kaelus.Pria bermanik merah itu pun menatapnya sejenak, sebelum memeluk tubuh sang istri yang duduk di atas kedua pahanya. Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Kaelus sempat terdiam, jemarinya mengusap pelan helai rambut cokelat Roselyn.Kereta kuda yang sempat berguncang pun kini bergerak lambat, membelah hujan salju lebat yang menutupi jalur curam menuju wilayah perbatasan.“Kau mau jawab atau tidak?”Roselyn sedikit mendongak, memegangi pipi Kaelus dengan kedua telapak tangan yang mungil, sementara bibirnya cemberut, meminta jawaban.Kaelus mengecup dahi sang pujaan hati, lalu menyahut, “Sejak melihatmu di pesta kekaisaran.”“Ah, saat pertama kali bertemu, ya?” lanjut Roselyn, kelopak matanya berkedip heran.“Benar, Sayangku.”“Mustahil kau langsung tahu, ‘kan?”“Hm, kalau diingat-ingat, hari itu kau tampak murung. Bahkan seperti orang yang tidak nyaman berada di keramaian,” t
Ler mais