Roselyn membuka mata, dan untuk sesaat mengira dirinya masih bermimpi. Langit-langit di atas sana berwarna krem pucat, cahaya lilin bergoyang lembut di sudut penglihatan. Namun, ketika hendak menekuk jari kelingking, tubuhnya seakan menolak diperintah.‘Apa yang terjadi padaku?’ gumamnya tanpa bisa bersuara.Putri Vogard masih dapat merasakan dinginnya ruangan. Meski dengan gerakan terbatas, matanya masih melirik.Sebuah botol kecil berwarna kehijauan tergeletak di atas nakas, separuh isinya tertumpah ke kain yang masih basah di sisi ranjang."Kau sudah bangun, Rose?"Suara itu datang dari sudut ruangan, diikuti derap langkah yang mendekat.
Read more