Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam satu detik. "Maafkan saya, Tuan," ucap Ken cepat. Sementara itu di depan mobil—Noah berdiri membeku. Tubuh mungil itu kaku, kakinya terpaku di aspal dan matanya terbelalak lebar, memantulkan ketakutan yang masih belum sempat ia pahami sepenuhnya. Mulutnya sedikit terbuka, ia ta bersuara dan tak bergerak sedikitpun. “Noah!!” Teriak Bibi Janeta. Wanita itu berlari dengan napas tersengal, ia hampir jatuh karena terburu-buru. Tangannya gemetar saat meraih tubuh kecil Noah, ia memeluknya erat. “Kamu tidak apa-apa, nak? Kamu tidak apa-apa?!” suaranya pecah, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan. Noah tetap diam dengan tatapannya yang polos. Ia masih terpaku pada mobil di depannya.
Read more