分享

Yakin

作者: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-01 15:14:00

Keesokan paginya, rumah kecil Bibi Janeta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai tipis di ruang makan, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua yang sudah mulai kusam. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara.

Clara duduk diam. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapannya kosong, sejak semalam, ia hampir tidak tidur. Pikirannya dipenuhi dua orang—Raymond dan Noah.

Bibi Janeta duduk di sampingnya dengan wajah penuh k
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (2)
goodnovel comment avatar
GigiKaka
jan sampai Thomas yg ternyata villain'nya yaa trus jadiin Noah sandera
goodnovel comment avatar
Sopia Tars
lg seruuu....tp sehari cuma 1 , bikin penasaran, coba ditambah sehar 5 ke
查看全部評論

最新章節

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Senyum Bahagia

    “MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masuk kembali ke kamar, lalu spontan menahan tawa kecil begitu melihat putranya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi frustrasi. Dasi hitam mungil di leher Noah kusut berantakan dan bentuknya sudah tidak jelas. Anak itu sibuk menarik-narik kain dasinya sambil mengerucutkan bibir kesal. “Ini susah…” gerutunya. “Kenapa orang nikah harus pakai tali beginian sih?” Clara terkekeh pelan. Pagi itu Noah mengenakan tuxedo kecil berwarna hitam dengan kemeja putih rapi yang membuatnya terlihat seperti versi mini Raymond. Rambutnya disisir ke samping dengan sedikit gel agar tetap rapi, sementara pipinya yang masih bulat membuat wajah seriusnya justru terlihat lucu. Clara berjalan mendekat lalu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tak Ingin Kehilangan

    Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gelap malam. Yang tersisa hanya napas Clara yang memburu dan tubuhnya yang masih gemetar hebat di samping Raymond. Perlahan, dengan kaki yang terasa lemas seperti kehilangan tenaga, Clara melangkah mendekati tepi gedung. Pandangannya kosong, sementara air mata masih membasahi pipinya tanpa henti. Raymond yang berdiri di belakangnya langsung menahan lengannya cepat. “Jangan,” ucapnya rendah, suaranya serak karena kelelahan. Namun Clara tetap menunduk ke bawah. Dan detik berikutnya, napasnya langsung tercekat. Tubuh Thomas terlentang di halaman belakang gedung kosong itu, jatuh menghantam beton keras beberapa puluh meter di bawah sana. Lampu jalan yang redup menerangi tubuhnya yang tidak b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bunuh Diri

    “Aku baik padamu…” suaranya mulai pecah. “Aku selalu ada untukmu…” Ia tertawa lagi, tetapi kali ini air mata mulai jatuh membasahi pipinya. “Aku membunuh semua orang yang menyakitimu…” “Itu bukan cinta!” bentak Clara sambil menangis. “Itu obsesi!” Thomas langsung terdiam. “Bahkan kau membunuh Kakek Charly!” Tubuh Thomas menegang. “Kau hampir membunuh Bibi Janeta!” “Itu karena kamu!” bentak Thomas tiba-tiba. Suaranya menggema penuh emosi yang kacau dan tidak stabil. “Aku takut kehilanganmu!” “Karena aku mencintaimu!” “Tidak!” Clara menggeleng keras sambil menangis. “Cinta tidak menghancurkan orang lain! Cinta tidak membunuh!” Wajah Thomas perlahan berubah hancur. Benar-benar hancur. Sementara itu, diam-diam Clara melirik ke bawah sekilas. Raymond mulai berhasil naik sedikit demi sedikit. Tangan dan tubuhnya sudah naik ke atas. Clara langsung kembali menatap Thomas, mencoba mengulur waktu. “Kalau kau benar mencintaiku…” suaranya bergetar pelan, “…kau t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hancurnya Hati Sang Psikopat

    “RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur oleh air mata. “Raymond! Raymond!” Tangannya mencengkeram pembatas beton dingin saat ia menunduk panik ke bawah. Dadanya terasa nyaris berhenti berdetak. Lalu detik berikutnya— “Ah…” Napas Clara tercekat. Beberapa meter di bawah sana, tubuh Raymond terlihat—pria itu masih hidup. Satu tangannya masih mencengkeram batang besi karatan yang mencuat dari sisi gedung. Tubuh pria itu menggantung di udara gelap, hanya bertahan dengan kekuatan lengannya sendiri. Sepatunya sesekali membentur dinding beton kasar, sementara angin malam terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Wajah Raymond penuh luka dan darah. Napasnya terdengar berat bahkan dari atas. Namun matanya masih terbuka, masih menatap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Terjatuh

    Tubuh Clara gemetar hebat. “Tidak…” suaranya hancur. Raymond langsung mengangkat tangan menghentikan semua orang. “Turunkan senjata.” “Tapi Tuan—” “SEKARANG!” Bentakan Raymond membuat seluruh anak buahnya terdiam. Perlahan, satu per satu senjata diturunkan. Thomas tersenyum puas melihat itu. “Bagus…” Namun Raymond tidak memedulikan siapa pun selain Clara. Tatapannya melembut sedikit ketika menatap wanita itu. “Clara…” suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari amarah di wajahnya tadi. “Lihat aku.” Clara menangis sambil mengangguk kecil. “Aku takut, Ray…” Kalimat itu menusuk dada Raymond begitu dalam sampai napasnya terasa berat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lirih. “Aku di sini.” Thomas langsung menatap Raymond penuh kebencian. “Kenapa?” suaranya mulai bergetar. “Kenapa dia selalu memilihmu?” Raymond tetap menatap Clara. “Karena dia mencintaiku.” Kalimat itu seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Thomas. Wajah pria itu langsung berubah. Retak. Marah. Dan hancur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Air Keras

    Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Familiar

    Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah Sakit

    Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Noah Sakit

    “Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dala

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status