Share

Familiar

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-03-24 13:51:47

Srrreeeettttt—!!!

Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak.

Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam satu detik.

"Maafkan saya, Tuan," ucap Ken cepat.

Sementara itu di depan mobil—Noah berdiri membeku.

Tubuh mungil itu kaku, kakinya terpaku di aspal dan matanya terbelalak lebar, memantulkan ketaku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pindah

    Malam merambat turun dengan perlahan, menelan setiap sudut kota dalam bayangan gelap yang panjang. Di lantai atas hotel, di balik pintu kamar yang tertutup rapat—Raymond berdiri sendirian di depan jendela. Lampu-lampu kota berkilau di bawah sana, terlihat indah… namun baginya, itu hanyalah ilusi ketenangan. Dunia yang ia kenal tidak pernah benar-benar aman. Tidak pernah. Tangannya perlahan mengepal. Sella sudah mati dengan cara yang terlalu kejam untuk disebut sekadar pembunuhan. Dan lebih dari itu—mayatnya dibuang tepat di depan hotelnya. Itu bukan kebetulan—itu pesan. Raymond menyipitkan mata. “Siapa pun kau…” gumamnya pelan. “…kau sudah memilih orang yang salah.” Namun di balik kemarahan itu—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak bisa ia abaikan. Clara dan Noah. Dunia mereka sekarang sudah terseret ke dalam dunianya. Dan dunia Raymond… tidak pernah memberi ampun. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Tidak…” Suara itu hampir seperti bisi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mayat

    Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana. Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam. "Kenapa?" tanyanya dingin. Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya. "Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan." Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku. Clara refleks menggenggam tangan Noah di bawah meja. Bu Eli menatap Ken dengan kaget. "Mayat?" Ken mengangguk pelan. Raymond langsung berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Aura pria itu berubah seketika. Kehangatan yang tadi sempat terlihat di meja makan lenyap begitu saja, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam yang selama ini selalu melekat padanya. "Siapkan mobil," ucap Raymond. "Baik, Tuan," sahut Ken cepat. Clara ikut berdiri. "Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Raymond menoleh ke arahnya. Wajahnya masih kera

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Melamar

    Suara Clara bergetar pelan. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, seolah ada begitu banyak emosi yang berkumpul di sana secara bersamaan—bahagia, takut, terharu, dan tidak percaya. Raymond masih berlutut di hadapannya. Tatapan pria itu yang semula penuh harap, perlahan mulai meredup. Jari-jarinya yang menggenggam tangan Clara terasa sedikit menegang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raymond benar-benar merasa takut. Takut mendengar kata tidak, takut kehilangan lagi. Dan Clara bisa melihat itu dengan jelas di matanya. "Kalau... kalau kau belum siap, aku bisa menunggu," ucap Raymond pelan. Meski suaranya tetap terdengar tenang, Clara tahu pria itu sedang menahan banyak hal. Clara menggigit bibir bawahnya pelan "Aku bukan tidak mau..." bisiknya lirih. Raymond mengangkat wajahnya perlahan, dan tatapan mereka kembali bertemu. "Aku hanya takut," lanjut Clara dengan suara bergetar. "Takut semua ini terlalu indah. Takut suatu hari nanti aku bangun dan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Romantis

    Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu, pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa. Hanya saja—kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi terlalu tajam. Kadang, diam-diam, ia akan menatap Clara yang sedang mengupas buah untuknya. Atau menatap Noah yang sibuk menggambar di sofa kecil sambil sesekali menunjukkan hasil gambarnya. “Papa, lihat! Ini gambar kita!” seru Noah semangat. Raymond menerima kertas itu. Di sana gambar tiga orang dengan garis-garis berantakan—satu pria tinggi, satu wanita berambut panjang, dan satu anak kecil di tengah. Di atasnya ada gambar rumah besar dan matahari besar berwarna kuning. Noah tersenyum lebar. “Itu Papa, Mama, sama aku.” Raymond menatap gambar itu cukup lama. Lalu perlahan,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sadar

    “Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa melihat beberapa dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang pasien Raymond. Monitor jantung berbunyi nyaring. Salah satu dokter menekan sesuatu pada infusnya, dan yang lain memeriksa monitor tekanan darah. “Tekanan darah turun drastis!” “Nadi melemah!” “Siapkan oksigen tambahan!” Setiap kalimat yang keluar dari dalam ruangan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Clara satu per satu. Kakinya melemas, kalau bukan karena Bu Eli cepat memegang lengannya, mungkin Clara sudah jatuh ke lantai. “Tidak…” bisiknya lirih. “Tidak… jangan…” Noah yang baru saja terbangun langsung menangis saat melihat ibunya. “Mama…” Clara menoleh cepat, lalu memeluk Noah erat. “Papa tidak apa-apa ka

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Saat Clara Pergi

    Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha memastikan semuanya. Untuk saat ini, kami akan memindahkan pasien ke ruang observasi setelah CT scan selesai. Tapi kondisinya memang harus diawasi ketat.” Kalimat itu seperti menghantam Clara tanpa ampun. Ia mundur satu langkah, seketika kakinya terasa lemas. Jika bukan karena kursi di belakangnya, mungkin ia sudah jatuh sejak tadi. Noah yang duduk di dekat Bibi Janeta menatap wajah ibunya dengan mata merah dan sembab. “Mama…” panggilnya lirih. Clara langsung menoleh. Anak itu turun dari kursi, lalu berjalan kecil ke arahnya. “Apa Papa sakit banget?” tanyanya pelan. Clara tidak bisa menjawab, tenggorokannya terasa terkunci. Ia hanya bisa memeluk Noah erat. Sangat erat. Seolah hanya itu sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tamu Penting

    Di belakangnya, Ken berdiri tegak. “Baik, Tuan,” jawabnya tanpa ragu.Raymond meneguk sisa wine di gelasnya dalam satu tarikan panjang. Cairan itu terasa pahit di tenggorokannya, namun ia tetap menelannya tanpa ekspresi.Gelas itu kemudian ia letakkan di atas meja kaca dengan sedikit lebih keras. S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dilema

    Malam terasa lebih dingin ketika Clara keluar dari hotel.Langkahnya cepat, hampir seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat. Sepatu datarnya mengetuk trotoar dengan ritme tergesa, sementara lampu-lampu jalan memantulkan bayangannya yang tampak rapuh di atas aspal

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah itu Cinta?

    Clara membeku.Tangannya yang tadi memukul dada Raymond perlahan berhenti. Jari-jarinya masih sedikit gemetar. Napasnya tersendat di tenggorokan, seperti seseorang yang tiba-tiba lupa bagaimana cara bernapas.Matanya membesar. Ia menatap Raymond dengan ekspresi seseorang yang baru saja mendengar se

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tak Mau Melepaskan

    Bibir mereka bertemu tanpa peringatan.Segalanya terjadi begitu cepat hingga Clara bahkan tidak sempat memberontak. Tangan Raymond yang besar dan kuat tiba-tiba menarik lehernya, menahan tubuhnya agar tetap dekat. Ciuman itu bukan ciuman yang lembut—tidak ada keraguan di dalamnya.Bukan pula sekad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status