Share

Teka-teki

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-22 12:57:52

“Di mana kalian sekarang?!” suara Clara langsung meninggi, napasnya memburu.

Di seberang, terdengar suara Thomas yang berat, seperti menahan rasa sakit. “Rumah sakit… Clara… kami di rumah sakit…”

Clara tidak berpikir dua kali.

“Aku ke sana sekarang,” ucapnya cepat.

Ia langsung menutup telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya semakin memucat.

“Bu Eli,” panggilnya, berusaha tetap terdengar tenang meski dadanya berdegup keras.

Bu Eli yang sedang berdiri tak jauh langsung menoleh. “Ya, Nona?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rahasia yang Ditinggalkan Maria

    Raymond terdiam. Nama Maria kembali menggema di dalam kepalanya. Rahasia. Warisan. Dua kata itu terasa seperti potongan teka-teki yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan darinya. "Apa yang sebenarnya disembunyikan ibu?" Charles menatap putranya beberapa detik sebelum menjawab. "Beberapa minggu sebelum kematiannya, Maria mulai bersikap berbeda." Raymond mengerutkan kening. "Berbeda bagaimana?" "Dia menjadi lebih berhati-hati." Charles berjalan perlahan menuju ruang utama mansion. "Dia mengganti beberapa pengawal. Mengunci ruang kerjanya. Bahkan memutus hubungan dengan beberapa orang yang selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga kita." Raymond mengikuti dengan tatapan tajam. "Dan kau tidak bertanya?" "Aku bertanya." Charles berhenti. "Dia tidak menjawab." Raymond tertawa hambar. "Jadi sekarang kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu apa-apa?" "Aku tahu sebagian." Charles menoleh. "Tapi tidak semuanya." Elena yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rahasia yang Disembunyikan

    Raymond tidak bergerak.Selama beberapa detik, tubuhnya berdiri kaku di halaman depan mansion tua itu. Cahaya lampu kekuningan yang baru menyala dari dalam bangunan jatuh tepat ke wajah wanita yang berdiri di ambang pintu.Raymond menatapnya tanpa berkedip.Wajah itu.Garis rahangnya. Bentuk matanya. Lekuk bibirnya. Bahkan kebiasaan kecilnya memiringkan kepala ketika sedang menatap seseorang.Semuanya begitu familiar.Terlalu familiar.Seolah sebuah bagian dari masa kecil Raymond tiba-tiba keluar dari foto lama dan berdiri hidup-hidup di hadapannya.Bibir Raymond bergetar."Ma...?"Suara itu keluar begitu lirih hingga hampir tertelan angin malam.Wanita tersebut langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras."Raymond..."Satu kata.Namun suara itu menghantam dada Raymond jauh lebih keras daripada suara tembakan mana pun yang pernah ia dengar.Dadanya terasa sesak.Kenangan masa kecil berkelebat begitu cepat di kepalanya.Sebuah taman.Ayunan kayu.Tangan le

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Maria Antonio

    Malam semakin larut. Namun bagi Raymond, waktu seolah berhenti tepat pada saat John mengucapkan satu nama yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam ingatan. Charles Antonio. Ayahnya. Pria yang selama ini ia yakini telah mati. Raymond masih berdiri di tengah ruang keamanan Rumah Sakit Pusat. Cahaya kebiruan dari puluhan monitor CCTV jatuh di wajahnya yang kaku. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak berkedip. Tangannya perlahan turun dari sisi tubuh. "Ulangi." Suaranya rendah. John menelan ludah sebelum menjawab. "Mansion itu tercatat dalam dokumen lama keluarga Antonio, Tuan." Ia membuka salah satu berkas digital di tabletnya. "Dan nama yang tercantum sebagai pemilik adalah..." John berhenti sejenak. "Charles Antonio." Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Raymond menatap layar. Di sana terpampang salinan dokumen lama dengan tanda tangan yang sudah menguning dimakan usia. Charles Antonio. Tanda tangan itu sangat dikenalnya. Raymond pernah melihatnya berkali-ka

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mengerti

    Charles kembali menatap hujan. "Jangan biarkan dia keluar dari kamar." Elena mengangguk. Namun sebelum meninggalkan ruangan, ia berhenti. "Charles." Pria itu menoleh. "Bagaimana kalau Ken mengingat semuanya?" Charles terdiam beberapa detik. Kemudian menjawab tenang. "Dia akan mengingat." Elena membelalak. "Kalau begitu—" "Justru itu yang aku inginkan." Charles tersenyum tipis. "Biarkan dia mengingat." "Biarkan dia tahu." "Kenapa?" Charles menatap Elena. "Karena dia akan membawa ketakutan itu kepada Raymond." Kamar wanita misterius Di lantai dua mansion... seorang wanita berdiri sendirian di depan cermin. Rambut panjangnya terurai hingga melewati bahu. Gaun sederhana berwarna gelap membungkus tubuhnya. Di jarinya terdapat sebuah cincin tua. Cincin emas dengan ukiran bunga kecil. Ia mengangkat tangannya. Menatap cincin tersebut. Jari-jarinya sedikit gemetar. Kemudian matanya kembali menatap pantulan wajah sendiri. Wajah yang hampir identik dengan Maria Anto

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sadar

    Malam semakin larut. Hujan tipis turun di atas kota, membasahi kaca-kaca tinggi Rumah Sakit Pusat. Cahaya lampu jalan memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan garis-garis cahaya kekuningan yang bergetar setiap kali kendaraan melintas. Namun di lantai khusus keamanan rumah sakit, tidak ada seorang pun yang memikirkan waktu. Raymond masih berdiri di depan layar monitor. Gambar wanita yang menyerupai Maria masih terpampang di sana. Wajah itu hanya terlihat beberapa detik dalam rekaman CCTV. Tetapi beberapa detik tersebut cukup untuk mengguncang keyakinan Raymond selama bertahun-tahun. John datang membawa sebuah map hitam tebal. Langkahnya cepat. "Tuan." Raymond tidak langsung menoleh. "Ada hasil?" John berhenti di hadapannya. "Kami menemukan arsip kematian Charles Antonio." Raymond akhirnya mengalihkan pandangan. "Berikan." Map itu diserahkan. Raymond membukanya. Dokumen pertama adalah surat keterangan kematian. Nama: Charles Antonio.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sosok bag 2

    "Tiga menit." kata teknisi. "Kamera mati selama tiga menit." Raymond menatap layar. "Tidak mungkin kebetulan." John mengangguk. "Seseorang sengaja memutusnya." "Periksa rekaman sebelum kamera mati." Teknisi segera memundurkan video. Beberapa detik sebelum gambar menghilang, salah satu pria itu menoleh ke belakang. Wajahnya hanya terlihat sebagian. Raymond tiba-tiba mengangkat tangan. "Berhenti." Gambar dibekukan. "Perbesar." Teknisi memperbesar gambar. Resolusinya menurun, tetapi bentuk wajah pria itu masih terlihat. Rahang tegas. Hidung lurus. Garis wajah yang begitu familiar. Raymond tidak berkedip. Putar lagi." Rekaman kembali berjalan. Wajah itu muncul sesaat. Kemudian tertutup masker. Raymond mundur satu langkah. Dadanya terasa berat. "Charles..." John langsung menoleh. "Tuan?" Raymond tidak menjawab. Ia terus menatap layar. Tidak mungkin. Ia sendiri menghadiri pemakaman ayahnya. Ia sendiri melihat peti mati Char

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status