LOGINTatapan Raymond langsung terpaku pada ujung jari Clara. Hanya ada setitik darah di sana. Merah kecil, nyaris tak terlihat jika seseorang tidak benar-benar memperhatikannya. Namun bagi Raymond, pemandangan itu terasa seperti alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi di seluruh mansion. Suasana ruang keluarga yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa mendadak berubah. Rahang pria itu mengeras. Tatapannya berpindah dari jari Clara ke pisau kecil di atas meja, lalu kembali lagi ke jari istrinya. “Clara.” Nada suaranya rendah. Terlalu rendah. Dan Clara langsung mengenali nada itu. Nada yang biasanya muncul ketika Raymond menghadapi situasi berbahaya. Padahal saat ini yang terjadi hanyalah goresan kecil akibat pisau buah. Clara mengangkat tangannya sedikit. “Ray, ini cuma luka kecil—” “Tidak.” Raymond sudah melangkah cepat menghampirinya. “Darahnya bahkan tidak sampai—” “Tidak.” “Raymond.” “Tidak.” Clara menghela napas panjang. Bu Eli yang berdiri di samping meja langsung men
Tatapan Clara tidak lepas dari buah-buah hijau kecil yang baru saja diletakkan Raymond di atas meja ruang keluarga. Namun sebenarnya, yang membuat matanya perlahan berkaca-kaca bukanlah mangga itu. Melainkan pria yang berdiri tepat di depannya. Raymond Antonio. Pria yang namanya cukup membuat banyak orang menundukkan kepala. Pria yang biasanya selalu tampil sempurna dengan setelan mahal, rambut rapi, dan aura dingin yang sulit didekati. Kini berdiri di tengah ruang keluarga dengan kondisi yang benar-benar menyedihkan. Rambut hitamnya berantakan ke segala arah. Kemeja putih mahal yang pagi tadi disetrika sempurna sekarang penuh kusut dan bercak tanah. Bagian lengannya tergulung tidak beraturan. Ada goresan tipis di punggung tangannya. Dan yang paling parah... Sepotong rumput liar masih tersangkut santai di bahu jasnya. Clara menggigit bibir kuat-kuat agar tidak tertawa. Sayangnya gagal. Sudut bibirnya sudah terangkat lebih dulu. "Ray..." Raymond yang sedang berusaha me
Kini giliran Raymond yang berteriak. Ken langsung tertawa sampai hampir kehilangan pegangan. Raymond menatapnya tajam membuat Ken seketika terdiam walau bahunya masih bergetar samar. Sepuluh menit berikutnya mereka akhirnya berhasil memetik beberapa mangga muda. Hijau. Keras. Asam. Persis seperti yang diinginkan Clara. Kemenangan terasa sudah di depan mata. Sampai tiba-tiba... Seekor ular kecil melintas di cabang bawah. Hening. Raymond membeku. Ken membeku. Bahkan ular itu seolah ikut membeku. Tiga makhluk hidup saling menatap dalam keheningan yang sangat canggung. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu secara bersamaan— "AAAAAA!" Raymond dan Ken melompat turun dari pohon. Tanpa martabat. Tanpa harga diri. Tanpa sisa aura mafia yang biasanya membuat orang ketakutan. Namun bencana sesungguhnya baru dimulai. Saat Raymond sedang membersihkan pakaiannya dari daun-daun kering, ia merasakan sesuatu bergerak perlahan di bahunya. Lembut. Berbulu. Dan sangat mencu
Raymond bahkan tidak memberi kesempatan Bu Eli menyelesaikan kalimatnya. Begitu mendengar istrinya menginginkan mangga muda, pria itu langsung berbalik menuju pintu utama mansion dengan langkah panjang dan tergesa. “Tuan, maksud saya kita bisa—” “Ken.” “Ya, Tuan?” “Siapkan mobil.” “Tapi—” “Sekarang.” Nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk perdebatan. Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur keluar dari gerbang besar Mansion Antonio dengan kecepatan yang biasanya digunakan untuk mengejar target penting. Dari kejauhan, iring-iringan kendaraan itu terlihat seperti sedang menjalankan operasi rahasia tingkat tinggi. Padahal kenyataannya... Mereka sedang berburu mangga muda. Empat puluh menit kemudian. Mobil berhenti di sebuah daerah pinggiran kota yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan kebun-kebun rakyat yang membentang luas hingga ke kaki perbukitan. Udara di sana jauh berbeda dari pusat kota. Lebih sejuk. Lebih lembap. Dan dipenuhi arom
Namun... Raymond telah membersihkan setiap jejak jauh sebelum menjatuhkan Clark. Saat agen itu akhirnya menutup map terakhir, ekspresi frustrasi samar terlihat di wajahnya. "Kami tidak menemukan pelanggaran." "Bagus." "Tapi kami akan tetap mengawasi bisnis Anda, Tuan Antonio." "Silakan." Tatapan keduanya bertemu selama beberapa detik. Pertarungan diam tanpa kata. Lalu kedua agen itu berdiri. "Selamat siang, Tuan Antonio." "Selamat siang." Pintu tertutup. Dan aura dingin itu langsung lenyap begitu saja. Ken mengembuskan napas panjang. "Saya benci federal." Raymond mengambil cangkir kopi. "Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka." "Dan Tuan baru saja membuat mereka pulang tanpa hasil." Kali ini Raymond benar-benar tersenyum. "Karena aku tidak memberi mereka apa pun." Namun begitu ia kembali ke kamar utama... Seluruh aura mafia menakutkan itu menghilang tanpa sisa. Benar-benar hilang. "Raymond, bagaimana?" "Lancar," Jawa Raymond singkat.
Keheningan yang nyaman di kamar utama itu pecah ketika Ken mengetuk pintu dan masuk dengan wajah lebih serius dari biasanya. "Tuan." Raymond yang sedang duduk di sofa dekat jendela perlahan mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya. Di sampingnya, Clara masih bersandar santai di kepala ranjang sambil membolak-balik novel yang belum benar-benar ia baca sejak lima menit terakhir. Ken berhenti beberapa langkah dari mereka. "Polisi federal datang." Kalimat itu langsung membuat suasana berubah. Clara refleks mengangkat wajah. Sementara Raymond hanya terdiam sesaat sebelum mengembuskan napas pelan. Tidak terkejut. Tidak panik. Seolah ia sudah memperkirakan bahwa kunjungan seperti ini hanya tinggal menunggu waktu. Setelah jatuhnya Clark Holdings beberapa minggu lalu, terlalu banyak pihak yang kehilangan uang, pengaruh, dan jalur bisnis. Tentu saja federal akan mulai memperhatikan siapa yang paling diuntungkan dari semua itu. Dan jawabannya sangat jelas. Raymond Anto
Raymond menepati kata-katanya. Sejak saat itu, ia mulai memainkan perannya—ia mulai bersikap manis pada Ellen di depan orang-orang, menggenggam tangannya sedikit lebih lama dari yang perlu, mencondongkan tubuhnya ketika berbicara, menyematkan perhatian kecil yang tampak tulus. Namun di balik semua
Raymond mengepalkan tangan. Urat-urat di punggung telapak tangannya terlihat menegang. Ia menoleh sejenak ke arah Clara—sekilas saja, namun cukup untuk membuat dada Clara terhenyak. Tidak ada kata ataupun isyarat lembut. Hanya tatapan singkat yang dingin, lalu Raymond berbalik dan melangkah cepat
Di dalam kamar, Raymond melepaskan genggaman Clara dan melangkah ke jendela. Tirai tipis berkibar pelan ketika ia membukanya. Lampu-lampu kota berkelip jauh di bawah.Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan gerakan tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya sedang bergejolak. A
Di kampus, sore itu matahari menggantung rendah, menyisakan cahaya keemasan di antara gedung-gedung tua. Clara berjalan pelan di koridor fakultas ketika langkah seseorang menyamainya.“Clara.”Ia menoleh. Hans berdiri di sana, wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, dengan







