Share

Pembunuhan

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-18 15:06:31

Lampu ruang tamu yang redup berpendar lemah, menciptakan bayangan panjang yang merayap di lantai seperti sesuatu yang hidup.

Dan di ambang pintu—berdiri seseorang. Diam dan tak bergerak. Tubuhnya dibalut pakaian serba hitam, menyatu dengan gelap malam. Topi menutupi sebagian wajahnya, sementara masker gelap menyembunyikan sisanya. Tidak ada yang bisa dikenali… kecuali sepasang mata.

Mata itu—dingin. Tajam. Kosong.

Sebuah benda kecil terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

Tok.

Bunyi i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
aiiuuu
kok aku curiga sama thomas ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Masih Ada Harapan?

    Nada suaranya tenang. Namun ketenangan itu justru terasa lebih menekan. Elena menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menyusun kembali ingatannya. "Aku..." "...baru pulang." "Saat melewati jalan belakang mansion..." "...aku merasa ada seseorang yang mengikutiku." Raymond tetap diam. Tidak menyela sedikit pun. Elena melanjutkan. "Aku sempat mengira itu hanya perasaanku." "Tapi ketika aku turun dari mobil..." "...orang itu tiba-tiba muncul." "Dia mengenakan jaket hitam." "Celana gelap." "Topinya ditarik sangat rendah hingga menutupi hampir seluruh wajahnya." "Aku bahkan tidak sempat melihat warna matanya." Clara menahan napas. "Lalu?" Elena memejamkan mata sejenak. "Semuanya terjadi sangat cepat." "Dia mendekat." "Aku mundur." "Lalu..." "...aku merasakan sesuatu menghantam perutku." Refleks, tangan Elena kembali menekan bagian luka. Ekspresinya berubah menahan sakit. "Aku baru sadar..." "...aku sudah ditusuk." Clara membelalak. "Ya Tuha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebetulan yang Aneh

    Raymond membeku di tempatnya. Langkah yang semula tergesa-gesa mendadak terhenti di tengah hamparan rumput taman belakang mansion. Dadanya masih naik turun akibat berlari dari halaman depan, tetapi kini napasnya terasa tercekat oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya. Tatapannya perlahan berpindah dari kedua telapak tangan Clara yang dipenuhi darah... ...ke sosok Elena yang berdiri hanya beberapa langkah di samping istrinya. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Gaun berwarna gading yang dikenakan Elena sudah tidak lagi utuh. Di sisi kiri bagian perut, kain halus itu robek memanjang sepanjang hampir lima belas sentimeter. Robekan tersebut memperlihatkan balutan sapu tangan putih yang kini telah berubah menjadi merah pekat karena terus menyerap darah. Cairan merah itu masih merembes keluar melalui sela-sela jemari Elena. Setetes... Dua tetes... Tiga tetes... Pluk... Pluk... Pluk... Butiran darah itu jatuh perlaha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Darah di Tangan Clara

    Lima SUV hitam memasuki halaman dengan kecepatan tinggi. Rem berbunyi nyaring. CIIIITTTTT!! Debu beterbangan di sepanjang jalan paving. Para pelayan yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan pekerjaannya. Beberapa pengawal spontan membuka jalan. Belum sempat kendaraan berhenti sempurna... Pintu SUV sudah dibuka dari dalam. Raymond turun hampir sambil berlari. "CLARA!" Suara itu menggema di seluruh halaman depan. Tak ada jawaban. Ia menerobos pintu utama mansion. BRAK!! Daun pintu kayu jati itu membentur dinding. Suara langkah sepatu kulitnya bergema di aula besar yang dipenuhi lantai marmer Italia. "Clara!" "Clara!" Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ruang tamu. Kosong. Ruang keluarga. Kosong. Perpustakaan. Kosong. Ia berbalik menuju ruang makan. Masih kosong. Beberapa pelayan hanya memandangnya dengan wajah bingung. "Di mana Nyonya?" tanya Raymond cepat. Tak ada yang sempat menjawab. "Noah!" teriaknya lagi. "Noah!" Dadanya mulai naik turun.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Panik

    Raymond langsung menegakkan tubuhnya di kursi belakang SUV. Ponsel masih menempel erat di telinganya. Jemarinya mencengkeram perangkat itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memucat. "Clara!" Suara pria itu menggema memenuhi kabin. "Tolong jawab aku!" Tak ada balasan. Yang terdengar hanya suara napas Clara yang memburu. Di sela-sela napas itu terdengar bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa, disusul suara seseorang memanggil dari kejauhan, namun terlalu samar untuk dikenali. "Lara...?" Raymond kembali memanggil dengan suara yang mulai bergetar. "Ada apa?" "Lara!" Tiba-tiba... Klik. Sambungan telepon terputus begitu saja. Layar ponselnya berubah gelap. Raymond membeku. Untuk sesaat, seluruh suara di sekelilingnya seolah menghilang. Ia hanya menatap layar ponsel yang kini memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Wajah yang selama bertahun-tahun dikenal selalu tenang dalam situasi apa pun. Kini... Tak ada lagi ketenangan itu. Yang tersisa hanyalah kecemasan yang perlah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuh

    Satu demi satu ambulans melesat meninggalkan lokasi menuju Rumah Sakit Pusat Sentosa, rumah sakit rujukan trauma terbesar di kota itu. Raymond tetap berdiri di tengah jalan. Tatapannya mengikuti ambulans hingga lampu rotatornya menghilang di tikungan. Angin laut berembus pelan. Membawa aroma garam, solar, serta asap kendaraan. Di sekitar lokasi, garis polisi mulai dipasang. Tim forensik kepolisian memotret setiap sudut kendaraan. Mereka mengukur panjang bekas pengereman. Mengumpulkan serpihan lampu. Serta menandai titik benturan pertama menggunakan cat semprot berwarna kuning. Raymond memutar tubuh. "John." Komandan keamanan Antonio Group segera berlari menghampiri. "Ya, Tuan." Raymond menunjuk SUV yang kini hanya tinggal rangka penyok. "Segel kendaraan itu." "Jangan ada satu baut pun dipindahkan sebelum tim investigasi keluarga datang." "Baik, Tuan." "Lalu periksa seluruh kamera CCTV." "Dari kawasan pelabuhan..." "...hingga titik kecelakaan ini

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ambulance

    Ken sama sekali tidak bergerak. Tubuh pria itu terbaring telentang di atas hamparan aspal yang dipenuhi pecahan kaca dan serpihan logam dari SUV yang ringsek. Seragam hitam yang biasanya selalu tampak rapi kini robek di beberapa bagian. Lengan kirinya dipenuhi goresan panjang akibat pecahan jendela samping, sementara darah terus merembes dari luka robek di pelipis kanan, mengalir melewati pipi hingga membasahi kerah kemejanya. Di bawah kepalanya, darah mulai membentuk genangan kecil yang perlahan bercampur dengan air dari selang pemadam kebakaran yang digunakan petugas untuk mencegah percikan api dari mesin kendaraan. Air kemerahan itu mengalir mengikuti kemiringan jalan, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya tercekat. Beberapa meter di belakang, SUV milik Antonio Group sudah hampir tak lagi berbentuk. Kap mesinnya terlipat seperti kertas. Mesin terdorong masuk hingga nyaris menembus kabin. Seluruh kaca depan hancur berkeping-keping. Asap putih t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status