Pak Argan menunjuk gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi tepat di sebelah area kosanku. Jaraknya memang hanya selemparan batu, tapi tembok pembatasnya setinggi harapan orang tua."Siap, Pak! Sepuluh menit!"Aku berlari kencang masuk ke dalam gang, meninggalkan Pak Argan yang memutar balik mobilnya menuju gerbang utama apartemen.Sesampainya di kamar, aku melempar bungkusan bakso ke atas meja—maafkan aku bakso, nanti kita bertemu lagi—lalu menyambar laptop bututku dan memasukkannya asal ke dalam tas.Tidak pakai mandi, tidak pakai ganti baju, cuma sempat ngaca sebentar memastikan tidak ada cabai nyelip di gigi, aku langsung lari lagi keluar.Berdiri di depan lobi yang lantainya marmer mengkilap itu membuatku merasa sangat kecil. Aku membetulkan letak kacamata dan merapikan kemeja flanelku yang kusut."Permisi, Pak. Saya mau ke tempat Pak Argan," ujarku pada satpam yang berjaga."Mbak Nara ya? Silakan, sudah ditunggu di Penthouse."Wih, Penthouse?Jarang-jarang Penthouse letaknya
Last Updated : 2026-01-21 Read more