Kereta kuda itu melaju kencang menembus jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan. Di dalam ruang sempit yang bergoyang itu, suasana terasa begitu menyesakkan. Long Xuan duduk kaku di hadapan istrinya, matanya berkilat tajam seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. Liya, yang masih di bawah pengaruh arak kuat, menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang empuk. Cadar sutranya sudah miring, menyingkap pipinya yang masih bengkak kebiruan akibat tamparan kemarin. Namun, alih-alih merasa takut, arak tampaknya telah melenyapkan sisa-sisa kendali diri Song Liya. "Kenapa semua berputar?" gumam Liya dengan suara serak sambil memegang kepalanya. Ia membuka matanya yang sayu, berusaha memfokuskan pandangan pada sosok pria di depannya. "Oh, kau ... Adipati Es yang terhormat. Mengapa kau ada di sini? Apa kau belum puas melihatku menderita?" "Diam, Murong Shi," geram Long Xuan, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Kau sudah cukup mempermalukanku hari ini. Berjudi hingga pingsan, ma
더 보기