Malam di aula utama kediaman Adipati Long menyisakan aroma dupa cendana yang berat, berbaur dengan sisa-sisa ketegangan yang seolah membeku di udara. Di bawah cahaya lampion yang temaram, jamuan makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam, hingga suara riang Long Yuan memecah keheningan dengan segala kepolosan masa kecilnya. Tanpa saringan sedikit pun, bocah itu mulai menceritakan petualangan mereka di Gunung Lingyun."Nenek, Kak Yuexin, kalian tahu tidak? Bibi Liya itu hebat sekali! Dia hafal semua nama rasi bintang di langit," seru Yuan sembari mengayunkan sumpitnya dengan semangat yang meluap-luap. "Saat meteor jatuh, aku memejamkan mata dan meminta doa agar Paman dan Bibi selalu bersama, saling mencintai, dan segera memberiku banyak adik! Oh, lalu saat fajar tiba, aku melihat Paman memeluk Bibi erat sekali di dalam tenda. Mereka seperti sepasang angsa yang tak mau lepas!"Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku. Liya nyaris tersedak butiran nasi, sementara Long X
Read more