“Beliau hanya menitipkan surat balasan ini melalui kurir, Yang Mulia,” ucap pelayan itu lirih, sambil menyodorkan sebuah nampan, tangannya gemetar tak tersembunyi.Arthur meraih surat itu dengan kasar. Amplopnya tampak biasa—putih polos, tipis, dan dilem seadanya. Tidak ada aroma parfum mawar yang biasanya menyengat. Tidak ada stiker berbentuk hati atau bekas lipstik di sudut amplop, hal-hal norak yang selalu Valeriana sertakan tanpa malu.Dengan gerakan tak sabar, Arthur merobek amplop itu. Ia menarik keluar selembar kertas dan mulai membaca.Elena, yang duduk di sampingnya, ikut melirik penuh rasa ingin tahu. Ia penasaran alasan apa yang akan dipakai Valeriana kali ini. Surat cinta panjang penuh rayuan? Atau puisi cengeng yang memohon belas kasihan?Namun, seiring Arthur membaca baris demi baris, wajahnya perlahan memerah. Urat-urat di lehernya menegang dan menonjol jelas. Napasnya menjadi berat dan kasar, seperti banteng yang tersulut amarah saat melihat kain merah.“Berani-beranin
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-26 Mehr lesen