Valeriana masih duduk tenang di sofanya, menyesap teh dengan gerakan lambat, seolah sengaja dilakukan demi memancing emosi. Ia kemudian meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. Sebuah denting halus terdengar, kecil namun sarat makna.“Aku bukan mengusir Ibu,” koreksi Valeriana dengan nada dingin yang menusuk. “Aku hanya mengusir tamu yang tak tahu sopan santun. Tamu yang menghina suamiku.”“Suamiku, suamiku, suamiku?!” Esme tertawa keras. Tawanya melengking, sumbang, dan penuh racun. “Jangan membuat Ibu tertawa, Valeriana! Sejak kapan kau menganggapnya suami? Dua tahun ini, kau sendiri yang selalu datang padaku sambil menangis, mengatakan betapa menjijikkannya dia!”Di balik pintu kedua ruang tamu yang terbuka sedikit, sebuah langkah kaki terhenti mendadak.Kael de Vallas baru saja pulang.Ia masih mengenakan pakaian latihannya yang berdebu. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan aroma keringat bercampur bau kuda melekat samar di tubuhnya. Semula ia berniat langsung naik ke kama
Last Updated : 2026-02-02 Read more