Menyadari posisi mereka, Xiaochen segera bangkit. Gerakannya terasa sedikit lebih tergesa-gesa dibandingkan ketenangannya yang biasa. Ia mundur selangkah, lalu tangan besarnya secara refleks merapikan lengan jubahnya yang sebenarnya sama sekali tidak kusut. Di balik rambut gelapnya, ujung telinga sang jenderal tampak sedikit memerah, sebuah reaksi biologis akibat lonjakan adrenalin yang bahkan tidak disadarinya sendiri."Kau seharusnya tidak berdiri terlalu cepat," ucap Xiaochen. Nada suaranya kembali datar dan dingin, terdengar lebih seperti observasi komandan di medan perang daripada kepedulian seorang suami.Zhiyao duduk tegak di atas karpet. Ia memijat pelipisnya kembali, menstabilkan napasnya yang memburu."Terima kasih, Yang Mulia," balasnya tenang. Tanpa rasa canggung, ia meraih botol porselen di atas meja, membuka penutupnya, dan menyesap sedikit isinya.Hanya seteguk kecil.Dalam hitungan detik, sensasi hangat yang nyaman menyebar di tenggorokannya. Namun, segera setelah
Read More