Siang itu, rumah milik keluarga Wiryawan tak seperti biasanya. Beberapa kerabat dan tetangga dekat tampak lalu lalang. Rumah yang biasanya sepi dan lengang kini berubah menjadi rumah duka. Meskipun tak.ada tenda tapi kursi berjajar rapi. Di sudut ruangan, Desi masih duduk berdiam diri. Ia tak menyangka jika Rendra, laki-laki yang selama ini ada di sisinya, harus pergi secepat itu. Wajahnya tampak sangat berduka. “Rendra…” bisiknya lirih. "Harusnya kita bisa mengakhiri semua dengan cara yang lebih baik!" Bisiknya pada angin. “Kenapa kamu pergi secepat ini…” Ia menunduk dalam. Tubuhnya kembali bergetar pelan. Untuk pertama kalinya, wanita yang selalu kuat, dingin, dan penuh perhitungan itu, benar-benar hancur. Tak lama kemudian, sepasang tamu datang. Helen dan Bagaskara melangkah perlahan dengan wajah penuh simpati. Begitu melihat Desi. Helen langsung menghampiri tanpa ragu. “Nyonya…” panggilnya lembut. Desi mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Dan tanpa ban
続きを読む