Jantung Arini berdegub kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jemari yang kini mendingin. Ia menatap Adrian dengan sorot mata waspada, merasa seperti mangsa yang tersudut di sudut gelap.Pikirannya melayang liar, mencari celah untuk melarikan diri, dan secara naluriah, ia berharap mendapatkan pertolongan dari Alvaro. Namun, ia segera menepis pikiran itu, Alvaro jauh di sana, dan ini adalah medan tempurnya yang paling pribadi.Tok! Tok! Tok!Tepat ketika Arini hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Adrian, suara ketukan pintu yang keras dan tidak sabaran memecah kesunyian yang mencekam itu.Pintu kamar utama terbuka tanpa menunggu izin. Sosok Dewi muncul di ambang pintu, menatap Arini dengan kilat tidak senang di matanya sebelum beralih menatap Adrian dengan wajah yang seketika berubah memelas."Mas, maaf kalau aku ganggu," ucap Dewi dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berjalan mendekat dan meraih lengan Adrian, seolah Arini hanyalah benda mati di ruangan itu. "Tapi aku tak
Read more