ANMELDENPagi datang tanpa burung, tanpa kicau, tanpa tanda kehidupan. Hutan yang biasanya ramai kini sunyi, seolah alam sedang menahan napas. Ayundria terbangun lebih dulu. Ia merasakan dingin menusuk, bukan dari udara, melainkan dari dalam tanah. Saat ia menapakkan kakinya, ada getaran samar yang menjalar melalui akar pohon, seperti detak jantung—tapi asing. Ia menoleh. Bill masih tidur pulas, wajahnya santai, tapi sesekali tubuhnya bergetar kecil, seolah bermimpi buruk. Seraphine menggeliat, membuka mata, lalu ikut terdiam. “Kau juga merasakannya?” bisiknya, langsung menegakkan tubuhnya. Torren dan Kaelith menyusul, wajah mereka sama-sama menegang. Mereka semua tahu, sesuatu sedang bergerak. Apapun itu, jelas itu seperti peringatan untuk mereka. Dari kejauhan terdengar suara lirih, semacam rintihan. Tak besar, tak meledak, hanya bunyi halus seperti es yang pecah di permukaan danau. Tapi suara itu berulang. Lalu berulang lagi. Seraphine berlutut, menyentuh tanah. Tangannya segera ditari
Malam turun perlahan, menggantungkan cahaya bulan pucat di atas padang tandus. Api unggun menyala redup, tak lagi memberi rasa hangat, hanya cahaya samar yang mengusir kegelapan. Mereka duduk melingkar. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk menenangkan hati masing-masing setelah hari panjang yang dipenuhi luka. Torren mengasah kapaknya dengan gerakan lambat, suara gesekannya justru terdengar seperti bisikan, menyayat kesunyian. Kaelith menatap ke langit, matanya seperti mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan. Seraphine sibuk menuliskan sesuatu di gulungan kecil, tangannya bergetar, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah mantra agar dirinya tidak runtuh. Eldric, berbeda dari mereka, duduk sedikit menjauh, menatap api dengan mata yang seakan tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Dan di sisi lain, Ayundria duduk terdiam. Rambut putihnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah di sana masih terasa dingin dari sentuhan mata purba yang m
Langit Aethoria retak. Suara gemuruh aneh merambat di udara, memantul di menara, membangunkan kota dari tidurnya. Burung-burung sihir yang biasa berputar di menara-menara keemasan jatuh ke tanah, sayap mereka terbakar oleh cahaya merah samar yang entah dari mana datangnya. Di ruang pertemuan tertinggi, Dewan Tetua Aethoria terkumpul tergesa-gesa. Para arkanis agung, jubah mereka berpendar dengan simbol rune yang bergerak liar, seolah dunia sendiri kehilangan keseimbangannya. “Ini bukan hanya retakan di Arkai,” ujar salah satu tetua dengan suara parau. “Ini gema yang menembus lapisan dunia.” “Menembus?” potong yang lain dengan nada marah. “Apa maksudmu, pintu itu sudah mulai terbuka?” Mereka saling pandang. Sunyi. Hanya dengungan kristal yang mengapung di tengah ruangan, menampilkan bayangan mengerikan, sebuah mata raksasa merah yang semalam menatap Arkai, kini tampak samar pula di langit Aethoria. Beberapa anggota dewan terjatuh berlutut, menutup wajah dengan tangan. Yang lain be
Langit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuatu. Kau merasakannya?” bisiknya, menoleh pada Seraphine. Seraphine mengangguk, wajahnya tegang. “Tidak hanya merasakan. Obelisk itu sedang memanggil.” Retakan di sekitar obelisk tiba-tiba menghitam, seperti tinta yang ditumpahkan ke atas batu. Dari celah-celah itu, asap kelam merembes keluar, melingkar-lingkar di udara sebelum menyatu menjadi siluet samar. Perlahan, bentuk itu menegas, menjelma sosok tinggi, kurus, matanya menyala redup, seolah dua bara yang hampir padam namun menatap jauh ke dalam jiwa mereka. Torren menggenggam kapaknya lebih erat, menahan gemetar. “Astaga! Itu bukan makhluk biasa.” Bill melangkah setengah ke depan, meski jelas tubuhnya masih lelah. “Bukan juga makhluk
Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.
Malam itu, setelah tubuh mereka dibalut ramuan dan mantra, kamp terasa lebih tenang. Api unggun kecil menyala, berbeda jauh dari api biru yang sempat padam saat malam serangan. Api ini biasa saja, tapi justru terasa lebih hangat dan manusiawi. Ayundria duduk di sisi api unggun, rambut putihnya tergerai acak, cahaya oranye membuatnya tampak lembut, meski bayangan di wajahnya tetap menyimpan lelah. Tangannya menggenggam kain bersih yang sudah basah dengan ramuan penyembuh. Bill duduk di seberang, punggungnya membungkuk, bajunya sudah setengah terbuka. Luka di bahu dan dadanya masih berdenyut, hitam di beberapa bagian bekas ia menyerap uap beracun semalam. Ia menyeringai kecil meski wajahnya pucat. “Kalau kau ragu-ragu begitu, Ayundria, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan… yah, paling tidak sedikit humor. Tapi mungkin lukaku malah makin parah.” Ayundria menatapnya tajam, tapi matanya berkaca-kaca. “Kau ini, bahkan saat hampir mati, masih bisa bercanda.” Ia menempelkan kain o







