Share

Bab 2

Author: Cahaya
“Jangan pergi! Sayang, jangan pergi ….”

Saat aku membuka mata kembali, aku mendapati diriku terbaring di ranjang rumah sakit. Tubuhku terbalut perban tebal, setiap inci terasa nyeri. Melihat aku sadar, dokter menatapku dengan raut penuh penyesalan dan berkata pelan, “Bu Vera, karena Anda sudah siuman, silakan selesaikan biaya pengobatan. Saat Anda dibawa ke sini, kondisinya terlalu parah. Janinnya sudah meninggal di dalam kandungan, jadi kami terpaksa melakukan tindakan induksi. Kami turut berduka cita.”

Usai berkata demikian, dokter menyerahkan sebuah botol ke tanganku. Di dalamnya terdapat segumpal daging, tangan dan kaki janin itu sudah hampir terbentuk sempurna. Mataku terasa perih, hatiku dipenuhi rasa sakit yang menusuk.

Beberapa tahun lalu, Omar pernah diserang dengan pisau oleh musuh lamanya karena ia merebut kerja sama lintas negara yang membuat pihak lawan gagal. Saat itu, akulah yang maju menahan tusukan itu. Omar sama sekali tak terluka. Sedangkan aku justru mengalami cedera pada rahimku, hingga sempat divonis sulit hamil.

Anak ini adalah hasil dari delapan belas kali program bayi tabung dan empat puluh lima suntikan hormon pemicu ovulasi. Sebuah perjuangan panjang yang akhirnya membuahkan hasil. Sedikit lagi aku bisa bertemu dengannya. Namun kini, ia hanya tersisa sebagai genangan darah dan segumpal daging di hadapanku .…

Aku menggigit bibirku erat-erat, memaksa air mata kembali ke dalam. Tiba-tiba terlintas sesuatu di benakku. Dengan sisa harapan terakhir, aku bertanya pada dokter, “Dokter, apa benar ada penyakit aneh seperti seseorang mencintai satu orang di dalam hatinya, tapi secara fisik memiliki ketergantungan yang tak bisa dikendalikan pada orang lain?”

Dokter langsung menggeleng tegas, seraya menjawab, “Bu Vera, secara medis tidak ada istilah ketergantungan fisiologis seperti itu, dan tidak ada penyakit seperti yang Anda sebutkan.”

Hatiku hancur sepenuhnya. Jadi selama ini, penyakit aneh itu hanyalah alasan Omar untuk menutupi perselingkuhannya!

Aku menarik sudut bibir dengan getir, memaksakan diri bangkit dan membayar biaya rumah sakit. Perawat yang menusukkan jarum infus padaku menatap dengan wajah penuh simpati.

“Nyonya, suami Anda ke mana? Anda sakit separah ini, tapi tak terlihat satu pun orang yang datang menjenguk.”

Perawat itu lalu menghela napas pelan, sambil melanjutkan, “Sama-sama ibu hamil, tapi nasib benar-benar berbeda. Di depan ada satu pasien yang baru saja dipastikan hamil. Suaminya menemani sepanjang pemeriksaan, perhatiannya luar biasa. Katanya karena kulit istrinya sensitif, dia bahkan meminta ruang pemeriksaan VIP khusus untuknya!”

Identitas "ibu hamil bernasib baik" yang dimaksud perawat itu tak perlu ditebak lagi. Tepat saat itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Omar masuk.

[Vera, kenapa tadi kamu meneleponku berkali-kali? Aku sedang sangat sibuk sekarang. Kalau ada apa-apa, bicarakan nanti saja.]

Menatap pesan yang begitu dingin dan asal-asalan itu, aku mengepalkan tangan. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku menjawab perawat dengan suara datar, “Suami saya tidak bisa datang. Dia sudah mati.”

Sejak detik dia memilih Sinta dan meninggalkanku, sejak anak kami kehilangan nyawanya karena dia, di dalam hatiku, Omar memang sudah mati. Dan pernikahan kami pun benar-benar berakhir.

Perawat itu cukup peka untuk tidak melanjutkan pertanyaan. Aku pun kembali berbaring di ranjang dan memejamkan mata sejenak.

Setelah sedikit pulih, aku memaksakan diri mengurus administrasi keluar rumah sakit. Aku ingin segera mengkremasi dan memakamkan anakku. Namun siapa sangka, baru saja melangkah ke pintu rumah sakit, aku berpapasan dengan Omar dan Sinta yang datang bergandengan tangan.

Saat itu, Omar tengah menuntun Sinta dengan sangat hati-hati. Tatapannya penuh kelembutan dan kasih sayang yang tak bisa disembunyikan.

Melihat pemandangan itu, mataku terasa panas. Aku langsung menyindir dengan nada dingin, “Omar, jadi ini yang kamu maksud dengan ‘sangat sibuk’? Kalau begitu, memang sibuk sekali.”

Omar menoleh mengikuti arah suaraku. Saat menyadari itu aku, tangannya yang menopang Sinta mendadak membeku di udara. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, disusul rasa bersalah yang tak sempat ia sembunyikan.

Belum sempat Omar membuka mulut, Sinta sudah lebih dulu angkat bicara ….
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 12

    “Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 11

    Bagas mendukung keputusanku. Demi membantuku mengejar mimpi dengan lebih leluasa, ia bahkan langsung menanamkan modal dan mendirikan sebuah studio atas namaku, studio yang benar-benar menjadi milikku.Syukurlah, meski sudah lama tak melukis, bakat itu masih ada. Satu demi satu lukisan berhasil kuselesaikan, seluruh kepahitan, ketidakrelaan, dan luka batin selama bertahun-tahun aku tuangkan ke dalam kanvas.Aku memang memiliki dasar yang kuat. Ditambah lagi dukungan dan promosi dari Bagas, namaku dengan cepat melejit. Aku meraih medali emas dalam ajang lomba seni lukis dan menjadi bintang baru di dunia seni rupa.Sejak saat itu, aku benar-benar melepaskan masa lalu dan melangkah ke kehidupan yang baru. Aku mengira, seumur hidup aku takkan lagi punya persinggungan dengan mantan suamiku, Omar.Namun hari itu, ketika aku hendak keluar untuk memenuhi janji dengan Bagas, kami berencana menonton pameran seni bersama, aku justru melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu.“Omar,

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 10

    Ekspresi Omar berubah menjadi seperti orang gila.“Semua ini salahmu. Dasar perempuan murahan! Kalau bukan karena kamu, anakku dengan Vera tidak akan celaka, dan Vera tidak akan meninggalkanku!”Memanfaatkan saat Omar lengah, Sinta menemukan celah. Ia mengangkat kaki dan menendang bagian vital Omar dengan keras, lalu meludahkan seteguk darah ke wajahnya.“Aku memang perempuan murahan, tapi kamu juga bukan orang baik! Kamu buaya, jelas-jelas sudah punya istri tapi masih main api denganku, bahkan sampai punya anak denganku!”“Kamu sendiri tak bisa mengendalikan nafsumu, tapi malah membohongi Vera dengan alasan penyakit aneh. Kamu pikir Vera pergi hanya karena aku?”“Yang benar-benar membuatnya mengambil keputusan pergi adalah sikap pilih kasihmu dan kebohonganmu! Dia sudah lama melihat semua dustamu!”“Kalau aku adalah pembunuh yang membuat Vera pergi, maka kamu adalah kaki tangannya!”Omar kesakitan hingga tubuhnya meringkuk, berguling-guling di lantai sambil meraung, “Sinta, Dasar wani

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 9

    “Kak Omar, aku benar-benar tidak menyangka Kak Vera setega ini. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir keberadaanku. Demi membunuhku dan anakku, dia bahkan sampai memanggil polisi untuk memfitnah aku. Harga diri seseorang tidak boleh diinjak-injak seperti ini! Daripada anak ini lahir dan ikut menderita, lebih baik sekarang juga aku gugurkan saja!”Melihat Sinta mengepalkan tangan dan hendak menghantam perutnya sendiri, Omar langsung panik. Tak sempat lagi larut dalam kesedihan, ia buru-buru menahannya, bahkan secara refleks membela Sinta.“Pak Polisi, ini sama sekali tidak bisa membuktikan kalau Sinta sengaja melukai orang. Pembunuh anakku yang sebenarnya adalah pria itu. Kalian seharusnya menangkap dia!”“Lagipula, Sinta sendiri juga sedang hamil. Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal segila itu.”Tersirat jelas dalam kata-kata Omar kalau dia mencurigai polisi itu dan aku bekerja sama. Melihat Omar yang sudah buta hati dan Sinta yang terus menghasut tanpa henti, para polisi justr

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 8

    “Kenapa kali ini Vera berani berulah sebesar ini? Sepertinya aku memang terlalu memanjakannya, sampai dia jadi tidak tahu batas!”“Cari, kalian semua cari dia! Harus ketemu meskipun butuh menggali tanah! Begitu ketemu, aku akan menghukumnya lebih berat, biar dia benar-benar kapok!”Para pengawal kembali menjawab patuh lalu bergegas pergi. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali dengan langkah tergesa. Omar terkejut, namun suaranya justru mengandung kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.“Secepat ini, kalian sudah menemukan Nyonya? Ini belum sampai sepuluh menit.”Pengawal itu dalam hati menggerutu, 'Mana mungkin, Tuan, Anda kira saya dewa?' Kemudian dia menggeleng, tapi dengan ragu mengangguk. “Tuan, Nyonya Vera belum ditemukan, tapi .…”Tiba-tiba polisi datang. Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, beberapa polisi sudah menyibak kerumunan dan berjalan mendekat dengan wajah serius, berdiri tepat di hadapan Omar dan Sinta.Begitu melihat polisi, kilatan panik melintas se

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 7

    Mendengar itu, Omar langsung terpaku di tempat. Tangannya yang menggenggam ponsel tanpa sadar mengepal erat.“Kamu bilang apa, siapa yang menjalani operasi induksi?”Dokter mengira Omar tidak mendengar dengan jelas, lalu dengan baik hati mengulanginya, “Nyonya Vera.”“Vera melakukan apa?” Omar bertanya lagi, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Si Dokter tidak habis pikir, apa pendengaran Omar bermasalah? Namun demi profesionalisme, ia tetap menjawab dengan jelas dan tegas, “Nyonya Vera menjalani operasi induksi persalinan.”Seluruh tubuh Omar seakan tersambar petir. Ia berdiri kaku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Omar, mata Sinta berkilat oleh kegembiraan tersembunyi. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut.“Kak Omar, perut Kak Vera sebesar itu, mana mungkin dia menjalani induksi persalinan?”“Menurutku dokter itu kemungkinan besar aktor yang Kak Vera sewa. Dia bersekongkol dengan dokter untuk berakting, hanya supaya kamu melunak dan mengeluarkann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status