Share

Bab 6

Author: Cahaya
Aku benar-benar tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

Omar dengan kasar melemparkan surat itu ke wajahku. Tepi kertas yang tajam menggores pipiku, meninggalkan garis darah yang perih.

“Masih pura-pura bodoh?!” bentaknya marah. “Sinta meninggalkan surat. Dia bilang kamu tidak bisa menerimanya, kamu memaksanya pergi saat aku lengah. Dia hamil, kondisi janinnya tidak stabil, apa kamu ingin membuatnya mati?!”

Tatapan bermakna Sinta sebelumnya tiba-tiba terlintas di benakku. Seketika aku paham segalanya.

“Omar, aku tidak tahu ke mana Sinta pergi. Apa kamu tidak bisa melihat bahwa ini semua sandiwara yang dia atur sendiri?”

Mata Omar memerah karena amarah. Ia mengangkat kaki dan menendang perutku dengan keras.

“Di saat seperti ini kamu masih berani memfitnah Sinta?!”

“Pengawal, kurung Nyonya di ruang pendingin agar dia merenungkan kesalahannya. Jika dia sudah mengatakan di mana Sinta berada, baru boleh kalian bebaskan!”

Tendangan itu merobek lukaku. Darah mengalir deras dari sana. Namun Omar seolah tak melihat apa-apa. Ia memerintahkan orang-orangnya mengurung aku di ruang pendingin, bahkan menyita ponselku agar aku tak bisa menghubungi siapa pun. Untungnya aku selangkah lebih cepat darinya. Sebelum ponselku dirampas, aku sempat mengirim pesan pada seseorang yang misterius.

[Tolong aku!]

Aku diseret paksa ke ruang pendingin. Untuk menghukumku, Omar dengan sengaja menyuruh orang-orangnya mengangkut satu truk penuh ikan busuk, lalu membantingnya ke tubuhku, mengurung aku bersama bangkai-bangkai itu.

Sisik ikan dan bau amis yang menyengat menempel di seluruh tubuhku, membangkitkan kenangan buruk yang lama terkubur. Dulu, hanya karena keluargaku berjualan ikan, aku dipandang rendah oleh teman-teman sekolah. Mereka mengejek aku sebagai "anak penjual ikan" dan menindasku tanpa henti. Mereka menangkap ikan dan menampar wajahku dengannya, bahkan menyumpalkan tulang ikan ke mulutku hingga gusi dan bibirku berdarah.

Saat aku diperlakukan seperti itu, Omar yang menyelamatkanku. Namun kini, demi Sinta, dialah yang mengoyak kembali lukaku, menancapkan pisau ke hatiku dengan tangannya sendiri.

Karena luka, aku demam tinggi. Kepalaku berat dan berkunang-kunang. Darah terus mengalir dari perutku. Pandanganku menghitam bergelombang. Keputusasaan dan ketidakberdayaan yang luar biasa menyelimutiku.

“Vera!”

Sesaat sebelum kesadaranku lenyap, samar-samar, aku seperti melihat sesosok bayangan berlari ke arahku dan menarikku ke dalam pelukannya yang erat.

Di sisi lain, pada hari kedua aku dikurung, Omar akhirnya menemukan keberadaan Sinta dan membawanya pulang tanpa kurang satu apa pun. Begitu Sinta ditemukan, amarah Omar pun sedikit mereda. Ia berniat menyuruh para pengawal mengeluarkan aku dari ruang pendingin.

Namun Sinta menyeka air mata dan berkata lirih, “Kak Omar, aku dan anak kita diusir oleh Kak Vera ke jalanan, semalaman kami diterpa angin dingin. Kamu tidak bisa begitu saja membiarkannya. Kamu harus menegakkan keadilan untuk kami.”

Mendengar itu, Omar segera memanggil kembali para pengawalnya. “Jangan dibebaskan dulu. Biarkan Vera tetap di sana. Sekalian saja dia belajar dari kesalahannya.”

Saat kalimat itu selesai diucapkan, ponsel Omar berdering. Itu telepon dari rumah sakit. Begitu tersambung, suara dokter langsung terdengar, “Tuan Omar, kami tidak bisa menghubungi istri Anda, Nyonya Vera, jadi kami terpaksa menelepon Anda. Tolong sampaikan pada Nyonya Vera, ia baru saja menjalani tindakan induksi persalinan. Karena ia keluar rumah sakit terlalu cepat, itu bisa menimbulkan komplikasi dan efek lanjutan. Pihak rumah sakit tidak dapat menanggung risikonya jika itu terjadi. Kami sangat menyarankan agar beliau kembali dirawat dan menjalani pemulihan di rumah sakit.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 12

    “Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 11

    Bagas mendukung keputusanku. Demi membantuku mengejar mimpi dengan lebih leluasa, ia bahkan langsung menanamkan modal dan mendirikan sebuah studio atas namaku, studio yang benar-benar menjadi milikku.Syukurlah, meski sudah lama tak melukis, bakat itu masih ada. Satu demi satu lukisan berhasil kuselesaikan, seluruh kepahitan, ketidakrelaan, dan luka batin selama bertahun-tahun aku tuangkan ke dalam kanvas.Aku memang memiliki dasar yang kuat. Ditambah lagi dukungan dan promosi dari Bagas, namaku dengan cepat melejit. Aku meraih medali emas dalam ajang lomba seni lukis dan menjadi bintang baru di dunia seni rupa.Sejak saat itu, aku benar-benar melepaskan masa lalu dan melangkah ke kehidupan yang baru. Aku mengira, seumur hidup aku takkan lagi punya persinggungan dengan mantan suamiku, Omar.Namun hari itu, ketika aku hendak keluar untuk memenuhi janji dengan Bagas, kami berencana menonton pameran seni bersama, aku justru melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu.“Omar,

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 10

    Ekspresi Omar berubah menjadi seperti orang gila.“Semua ini salahmu. Dasar perempuan murahan! Kalau bukan karena kamu, anakku dengan Vera tidak akan celaka, dan Vera tidak akan meninggalkanku!”Memanfaatkan saat Omar lengah, Sinta menemukan celah. Ia mengangkat kaki dan menendang bagian vital Omar dengan keras, lalu meludahkan seteguk darah ke wajahnya.“Aku memang perempuan murahan, tapi kamu juga bukan orang baik! Kamu buaya, jelas-jelas sudah punya istri tapi masih main api denganku, bahkan sampai punya anak denganku!”“Kamu sendiri tak bisa mengendalikan nafsumu, tapi malah membohongi Vera dengan alasan penyakit aneh. Kamu pikir Vera pergi hanya karena aku?”“Yang benar-benar membuatnya mengambil keputusan pergi adalah sikap pilih kasihmu dan kebohonganmu! Dia sudah lama melihat semua dustamu!”“Kalau aku adalah pembunuh yang membuat Vera pergi, maka kamu adalah kaki tangannya!”Omar kesakitan hingga tubuhnya meringkuk, berguling-guling di lantai sambil meraung, “Sinta, Dasar wani

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 9

    “Kak Omar, aku benar-benar tidak menyangka Kak Vera setega ini. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir keberadaanku. Demi membunuhku dan anakku, dia bahkan sampai memanggil polisi untuk memfitnah aku. Harga diri seseorang tidak boleh diinjak-injak seperti ini! Daripada anak ini lahir dan ikut menderita, lebih baik sekarang juga aku gugurkan saja!”Melihat Sinta mengepalkan tangan dan hendak menghantam perutnya sendiri, Omar langsung panik. Tak sempat lagi larut dalam kesedihan, ia buru-buru menahannya, bahkan secara refleks membela Sinta.“Pak Polisi, ini sama sekali tidak bisa membuktikan kalau Sinta sengaja melukai orang. Pembunuh anakku yang sebenarnya adalah pria itu. Kalian seharusnya menangkap dia!”“Lagipula, Sinta sendiri juga sedang hamil. Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal segila itu.”Tersirat jelas dalam kata-kata Omar kalau dia mencurigai polisi itu dan aku bekerja sama. Melihat Omar yang sudah buta hati dan Sinta yang terus menghasut tanpa henti, para polisi justr

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 8

    “Kenapa kali ini Vera berani berulah sebesar ini? Sepertinya aku memang terlalu memanjakannya, sampai dia jadi tidak tahu batas!”“Cari, kalian semua cari dia! Harus ketemu meskipun butuh menggali tanah! Begitu ketemu, aku akan menghukumnya lebih berat, biar dia benar-benar kapok!”Para pengawal kembali menjawab patuh lalu bergegas pergi. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali dengan langkah tergesa. Omar terkejut, namun suaranya justru mengandung kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.“Secepat ini, kalian sudah menemukan Nyonya? Ini belum sampai sepuluh menit.”Pengawal itu dalam hati menggerutu, 'Mana mungkin, Tuan, Anda kira saya dewa?' Kemudian dia menggeleng, tapi dengan ragu mengangguk. “Tuan, Nyonya Vera belum ditemukan, tapi .…”Tiba-tiba polisi datang. Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, beberapa polisi sudah menyibak kerumunan dan berjalan mendekat dengan wajah serius, berdiri tepat di hadapan Omar dan Sinta.Begitu melihat polisi, kilatan panik melintas se

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 7

    Mendengar itu, Omar langsung terpaku di tempat. Tangannya yang menggenggam ponsel tanpa sadar mengepal erat.“Kamu bilang apa, siapa yang menjalani operasi induksi?”Dokter mengira Omar tidak mendengar dengan jelas, lalu dengan baik hati mengulanginya, “Nyonya Vera.”“Vera melakukan apa?” Omar bertanya lagi, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Si Dokter tidak habis pikir, apa pendengaran Omar bermasalah? Namun demi profesionalisme, ia tetap menjawab dengan jelas dan tegas, “Nyonya Vera menjalani operasi induksi persalinan.”Seluruh tubuh Omar seakan tersambar petir. Ia berdiri kaku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Omar, mata Sinta berkilat oleh kegembiraan tersembunyi. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut.“Kak Omar, perut Kak Vera sebesar itu, mana mungkin dia menjalani induksi persalinan?”“Menurutku dokter itu kemungkinan besar aktor yang Kak Vera sewa. Dia bersekongkol dengan dokter untuk berakting, hanya supaya kamu melunak dan mengeluarkann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status