Isabella menikmati sarapan bersama di kediaman yang ia tahu milik Sein rekan Allard itu. Di sana berbagai macam hidangan pun tersedia. "Makanlah yang banyak, jangan sungkan-sungkan," ujar Aldrich pada Isabella. Isabella tersenyum sungkan, ia melotot pada Aldrich yang duduk di hadapannya. "Anggap saja rumah ini seperti rumah Anda sendiri, Nyonya Isabella," ujarnya. "Bukan begitu, Tuan Aldrich?" "Heem." Aldrich manggut. Isabella menatap sekitar, tampak sunyi di tempat itu. "Ngomong-ngomong, apakah kau tinggal sendirian, Tuan Sein?" tanya Isabella pada pria itu. "Ya," jawab Sein. "Hanya dengan beberapa pelayan di sini." "Sayang sekali, rumah sebesar ini hanya Anda tinggali seorang diri." Isabella terkekeh pelan. Sein melirik ke arah Aldrich yang menikmati makanannya tampak seolah-olah tak mendengar obrolannya dengan Isabella. Aldrich menyelesaikan makannya lebih dulu dari orang-orang itu. Pria itu memperhatikan makanan di dalam piring Isabella. "Tambah lag
Read more