Malam itu, hening Istana Kepresidenan terasa lebih pekat dari biasanya. Sera duduk di tepi ranjang, matanya sesekali melirik pintu kamar yang masih tertutup rapat. Ia baru saja meletakkan jurnal medisnya saat gagang pintu berputar, menampakkan sosok Rendra yang tampak letih dengan kemeja yang sudah tidak serapi pagi tadi. "Tadi pelayan bilang Anda ada di Istana sampai siang," buka Sera sembari memerhatikan Rendra yang melangkah menuju sofa tunggal di dekat ranjang. "Saya pikir Anda akan di sini sampai malam, ternyata Anda pergi lagi." Rendra menghela napas pendek, jemarinya bergerak lincah melonggarkan simpul dasi yang seolah mencekik lehernya seharian ini. "Ada pertemuan mendadak di luar yang tidak bisa ditunda," jawabnya singkat, suaranya terdengar berat dan serak. Sera terdiam, matanya terpaku pada sosok pria di depannya. Dalam temaram lampu kamar, ia menatap lekat garis-garis tegas di wajah Rendra. Pikirannya melayang jauh, seandainya pria ini bukan seorang Presiden Iraya, se
Last Updated : 2026-05-04 Read more