"Ya, kamu benar. Naka memang tampan," sahut Rendra singkat.Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun ada ketajaman yang tersembunyi di sana. Setelah mengucapkan kalimat itu, Rendra langsung membuang muka ke arah jendela samping, memutus kontak mata dengan Sera sepenuhnya. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi mobil, melipat tangan di depan dada, dan mengunci rapat bibirnya. Keheningan yang menyesakkan seketika menyelimuti kabin mobil sepanjang perjalanan pulang menuju Istana.Sera tertegun, ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ia melirik profil samping wajah Rendra yang mengeras, rahangnya tampak menonjol menunjukkan ketegangan. Sera pun memilih untuk ikut diam, kepalanya tertunduk sembari memutar kembali kalimatnya tadi.“Apa aku salah bicara? Tapi kan aku hanya jujur,” batinnya bingung.Sesampainya di halaman Istana, mobil bahkan belum berhenti sempurna ketika Rendra sudah membuka pintu. Ia keluar dengan langkah lebar dan tegap, berjalan lurus menuju pin
Last Updated : 2026-05-01 Read more