Eyang Utari tersenyum simpul, matanya yang bijak menatap hangat Sera yang kaget mendengar ucapan Rendra. Ia menepuk sisi kursi di dekatnya, memberi isyarat agar Sera duduk lebih dekat. Mereka kemudian terlibat dalam obrolan ringan, tentang tanaman di taman mansion hingga cerita-cerita masa kecil Rendra yang membuat Sera sesekali tertawa kecil, sementara pria di sampingnya itu hanya bisa berdehem canggung. Namun, ketajaman insting Rendra tidak bisa dibohongi. Ia menyadari gurat kelelahan di sudut mata Sera. "Eyang, sepertinya Sera perlu istirahat sebentar. Kami izin ke kamar dulu," pamit Rendra seraya berdiri. Mereka berjalan bersisian menyusuri koridor mansion yang megah dan sunyi, hanya suara ketukan sepatu mereka yang bergema di atas lantai marmer. Sera tampak melamun, hingga akhirnya ia memecah keheningan. "Oh ya Tuan, dulu saat sekolah, apa Anda mendapatkan pelajaran sejarah Iraya?" tanya Sera tiba-tiba. Rendra menoleh sedikit, langkahnya melambat. "Ada. Itu mata pe
Last Updated : 2026-04-14 Read more