Di Paviliun Rendra menyesap teh hangat yang baru saja disajikan Siwi dengan gerakan tenang. Di hadapannya, Sera masih tampak kikuk, sementara Angga sesekali membetulkan posisi duduknya karena dilingkupi rasa sungkan yang luar biasa. Tak lama, Ara muncul dari balik tirai kamar dengan langkah ragu, jemarinya meremas sebuah buku tulis bersampul cokelat. Tanpa berani menatap langsung sang Presiden, Ara menyodorkan buku itu ke arah Sera dengan gerakan cepat. "Kak, tolong," bisiknya nyaris tak terdengar. Rendra meletakkan cangkirnya perlahan ke atas meja kayu. Bunyi denting halusnya membuat Ara sedikit berjengit. "Kenapa Ara tidak minta sendiri? Apa kamu takut padaku?" tanya Rendra, sudut bibirnya sedikit terangkat, menatap gadis remaja itu dengan sorot mata yang sulit ditebak, tapi lantas mengambil buku yang Sera sodorkan. Ara menggelengkan kepala dengan cepat, namun kakinya tetap terpaku di tempat. Ia menunduk dalam, menatap ujung jari kakinya sendiri. Melihat reaksi itu, Ren
Última atualização : 2026-02-17 Ler mais