Tanpa ampun, ia menginjak wajah Tresna hingga hidung pria malang itu kembali mengeluarkan darah segar. Cairan merah itu mengalir membasahi tanah liat yang becek di bawah telapak sepatu sang preman."Ini hadiah buatmu karena sudah merepotkan kami sejak semalam di rumah Wati!" geramnya sambil terus menekan sepatunya ke wajah Tresna. Tresna hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa dan penghinaan fisik tersebut.Meski terhimpit, ia terus memutar otaknya yang cerdas untuk mencari celah demi membalikkan keadaan. Matanya yang tajam tetap menatap ke arah buku di tangan si pemimpin di tengah tekanan lutut preman gempal yang brutal."Sudah, jangan langsung dimatikan. Kita bawa dia ke pinggir sendang saja," perintah si pemimpin."Biar air keramat ini yang mencuci dosa-dosanya nanti," lanjutnya dengan nada bicara yang penuh kemenangan. Dua preman segera menyeret tubuh Tresna yang lemas di atas tanah merah yang licin dan penuh duri semak.Mereka menarik kaki Tresna menuju bibir mata air Senda
Last Updated : 2026-03-27 Read more