مشاركة

Bab 137 

مؤلف: Prince Molina
last update تاريخ النشر: 2026-03-28 08:43:33

Di dalam kegelapan gubuk pupuk yang pengap, waktu seolah berhenti berputar. Silvi menatap wajah Tresna melalui sisa cahaya bulan yang masuk dari celah atap rumbia.

Ia melihat gurat kelelahan sekaligus gairah jantan yang membara di mata sang mantri. Janda desa itu menuruti isyarat Tresna yang menarik tangannya tanpa ragu sedikit pun.

Silvi mulai mengusap tonjolan keras itu menggunakan telapak tangannya. Ritme naik turun ia mainkan secara perlahan di balik kain celana Tresna yang kotor.

"Mas... a
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 222

    Tepat pada detik pintu itu jebol, kesadaran Tresna benar-benar padam meninggalkan tubuh kekarnya yang jatuh telungkup tak berdaya.Clara, Linda, dan Silvi yang sedari tadi menunggu dengan jantung berdebar di luar baris pertahanan langsung nekat berlari menerobos kerumunan polisi. Wajah mereka pucat pasi dipenuhi kepanikan yang luar biasa melihat kondisi di dalam gudang. Mereka berteriak histeris saat melihat sosok pria yang mereka cintai terkapar tak bergerak di tengah genangan darah yang masih hangat."Mas Tresna! Ya Tuhan, Mas!" jerit Linda dengan suara yang melengking tinggi membelah kesunyian aula gudang. Gadis itu hampir saja terjatuh jika tidak segera ditangkap oleh Silvi yang juga sedang menangis sesenggukan.Clara dengan naluri medisnya yang tajam bergerak lebih cepat dibandingkan siapa pun dan langsung berlutut di samping tubuh lemas Tresna. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kulit Tresna yang mulai terasa mendingin akibat kehilangan banyak darah. Dia segera memaksakan di

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 221

    Langkah kaki Tresna terasa sangat berat dan lambat saat dia mencoba menyeret tubuhnya yang ringsek di atas lantai beton. Paha kirinya yang tertembak terasa seolah sedang dihujam oleh ribuan jarum panas setiap kali ototnya dipaksa untuk menumpu beban.Darah segar merembes keluar dari balik balutan kain daster batik yang melilit erat di kakinya. Jejak merah pekat tertinggal di sepanjang jalur pergerakannya, menandakan sisa kehidupan yang terus terkuras habis."Satu langkah lagi... gue nggak boleh mati di sini," bisik Dia dengan napas yang tersengal parah.Bunyi gesekan sandalnya dengan lantai semen menggema lirih di aula raksasa yang kini mendadak sunyi senyap laksana kuburan.Tresna akhirnya sampai di depan meja kerja kayu jati milik sang Bos Mafia yang baru saja tewas mengenaskan. Dia mencengkeram tepian meja yang kokoh itu menggunakan jemarinya yang gemetar hebat demi menjaga tubuhnya agar tidak ambruk.Pandangan mata Tresna langsung terkunci pada brankas besi baja yang pintunya masi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 220

    "Hhh... hhh... pergi lu semua," bisik Tresna sambil merosot perlahan karena sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya sendiri.Dia bersandar lemah pada tiang beton yang hancur di belakangnya, mencoba menahan kesadaran yang terus memudar akibat rasa sakit. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara memicu rasa perih yang luar biasa menusuk bagian tulang rusuknya yang telah retak.Tangan kanannya menekan kuat luka di paha kirinya yang terus mengeluarkan darah segar berwarna pekat. Cairan hangat itu membasahi telapak tangannya, mengingatkan Tresna bahwa luka tembak itu masih sangat berbahaya jika tidak segera ditangani."Gusti... akhirnya… selesai…" gumam Tresna sambil menatap langit-langit gudang yang remang dengan pandangan mata yang mulai berkunang-kunang.Lelaki itu mencoba berdiri, namun kakinya langsung lemas dan dia kembali terduduk dengan ringisan sakit yang tertahan di kerongkongan. "Sial... paha gue beneran tembus," keluhnya sambil menatap nanar ke arah kakinya yang

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 219

    Angin maut menderu sangat kencang, membawa hawa panas yang nyaris membakar kulit wajah Tresna yang sudah bersimbah darah. Di detik-detik yang seolah berhenti berputar, mata sang mantri tetap terpejam rapat demi memasrahkan diri sepenuhnya pada petunjuk gaib dan memori anatomi di kepalanya.Kepalan tangan raksasa sang Bos Mafia melesat laksana peluru kendali yang mematikan. Serangan itu hanya berjarak satu tarikan napas saja dari tulang tengkorak Tresna yang sudah terpojok di pilar beton."Mampus lu, Mantri gila!" raung Bos Mafia dengan urat leher yang nampak hampir pecah karena amarah."Sekarang atau mati!" batin Tresna berteriak keras menantang maut yang sudah mengintai di depan mata.Dengan refleks yang melampaui batas kewarasan manusia, Tresna memiringkan kepalanya ke arah kanan dengan gerakan yang sangat cepat. Pukulan maut itu meleset tipis, hanya sejauh helai rambut dari telinga kiri Tresna yang masih terus berdenging hebat.BLARRR!Hantaman kepalan tangan sang raja jalanan itu

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 218

    Punggungnya menghantam keras tiang penyangga beton di tengah ruangan hingga menciptakan bunyi dentuman yang mengerikan. Getaran itu merambat ke seluruh rangka bangunan, menjatuhkan debu-debu tua dari langit-langit gudang yang suram ke arah tubuhnya yang ringsek."Uhuk! Uh... hakh!" Tresna memuntahkan darah segar ke atas lantai beton yang dingin dan keras. Dunia di depan matanya nampak bergoyang hebat, seolah gravitasi bumi sedang mempermainkan keseimbangan tubuhnya yang sudah hancur.Dia bersandar pada tiang beton tersebut, mencoba menghirup oksigen yang terasa sangat mahal dan menyakitkan di dadanya. Menyadari kekuatan fisik Bos Mafia itu jauh melampaui kemampuan manusia biasa, Tresna mulai merasa ajalnya sudah berada di ambang pintu."Gimana, Mantri? Masih mau pamer cahaya merah lagi atau mau langsung gue kirim ke neraka?!" teriak Bos Mafia dengan penuh kesombongan. Dia melangkah maju dengan tenang, menikmati setiap detik penderitaan lawannya yang sudah tidak berdaya bersandar pada

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 217 

    "Dokter Richard!" teriak para penjaga yang baru saja tersadar dari kebutaan sementara akibat cahaya merah tersebut.Bos Mafia yang tadi sempat terlempar ke belakang kini mulai bangkit dengan wajah penuh bekas luka yang nampak semakin merah membara. Dia melihat Richard yang sudah tidak bergerak di bawah tumpukan peti, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Tresna dengan penuh kemarahan.Tresna sendiri kini sudah berhasil berdiri tegak, meski kakinya yang tertembak masih bergetar hebat dan terus mengeluarkan darah. Cahaya merah dari Batu Wulung perlahan meredup, namun sisa energi panasnya masih terasa menyelimuti seluruh tubuh Tresna.Sang mantri mengatur napasnya yang memburu, mencoba merasakan aliran darahnya yang kini membawa kekuatan baru yang sangat dahsyat. Dia menatap sekeliling, melihat moncong-moncong senjata yang kembali terarah kepadanya, namun kali ini tidak ada lagi ketakutan di matanya."Ayo maju! Siapa lagi yang mau merasakan panasnya pusaka ini?!" tantang Tresna de

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status