Isabella memejamkan mata, berusaha mempertahankan akal sehatnya di tengah gempuran sensasi yang Alex ciptakan. Ia tahu ini adalah taktik Alex untuk mengalihkan perhatiannya agar ia menyerah.“Kau... kau pangeran yang tidak tahu aturan,”bisik Isabella parau.“Aturan? Di ruangan ini, akulah aturannya,” jawab Alex sebelum akhirnya membungkam protes Isabella dengan ciuman yang menuntut dan dalam.Ketika ciuman itu terlepas, Alex berbisik di telinganya. “Aku tidak suka kau merahasiakan sesuatu dariku.”Isabella terdiam mendengar kalimat yang bernada ancaman itu. ‘Maafkan aku, Alex, tolong bersabarlah. Ketika waktunya tiba, aku akan memberikanmu pewaris.’Alex menatap Isabella dalam-dalam, mencari kebenaran di balik sorot mata sang istri. Ada kilatan posesif yang begitu pekat, membuat Isabella merasa seolah-olah ia sedang dibaca oleh pria yang sangat mengenalnya. Tanpa sepatah kata lagi, Alex menarik diri, membetulkan pakaian Isabella yang sedikit berantakan, lalu menggendongnya keluar dari
Read more