เข้าสู่ระบบDi depan pintu kamar sang putra mahkota, Noah dan Matteo berdiri kaku, menunduk dalam dengan bahu yang bergetar.“Jelaskan padaku,” suara Alex merendah, nyaris berbisik, tetapi terdengar lebih menakutkan daripada teriakan. “Bagaimana bisa Duchess berada di kolam teratai sendirian, sementara kalian ditugaskan sebagai pengawalnya?”Noah memberanikan diri untuk menjawab dengan suara parau. “Mohon ampun, Yang Mulia. Duchess... beliau secara tegas meminta kami untuk tidak mengikuti beliau sampai ke dalam area privasi Paviliun tersebut. Beliau merasa sangat tertekan dengan pengawalan yang terlalu ketat, dan beliau bersikeras bahwa di dalam lingkungan paviliun, beliau aman.”“Aman?” Alex tertawa getir, sebuah tawa tanpa humor yang membuat nyali Matteo menciut. “Dia hampir mati karena kalian membiarkannya berjalan sendiri ke kolam belakang! Apa gunanya kalian menjadi pengawal jika hanya bisa menuruti perintahnya untuk tidak mengawal? Jika dia memintamu untuk melompat dari tebing, apakah kau j
“Nyonya, kau membuatku panik. Apa yang kaulakukan di sini?” Anne mengusap pundak Helena dengan lembut hingga membuatnya menoleh. Penampilannya kusut masai; rambutnya berantakan, wajahnya pucat dan matanya sembab. Persis seperti seorang gelandangan di emperan toko. Jauh dari penampilannya sebagai seorang istri pangeran. Hati Anne mencelos melihat betapa menderitanya majikannya karena dilanda cemburu buta. Ia sudah hidup lama bersamanya sehingga bisa merasakan penderitaannya. Helena duduk di taman yang sepi sendirian. Napasnya masih memburu akan tetapi sorot matanya sudah mulai terlihat lebih tenang. “Buatkan aku ayam panggang dengan saus jamur.” Anne tersenyum mendengar permintaan majikannya. Ketika ia mengatakan keinginannya, itu berarti kemarahannya sudah mulai surut. Akibat marah yang tak bisa dikendalikan, ia merasa lapar. Lebih baik seperti itu, daripada dia meminta macam-macam semisal memakan daging manusia.Anne membantunya berdiri agar bisa memapahnya. Namun sang tuan putri
“Tuhan apakah ini akhir dari hidupku?” batin Isabella ketika merasakan tubuhnya tertarik ke dasar kolam yang sangat dalam. Setelah beberapa kali ia berusaha mengejatkan kakinya agar kainnya lepas, tubuhnya justru semakin tertelan oleh air. Ke dua sudut matanya meneteskan air mata kepasrahan. “Mungkin, aku akan terbangun di kehidupan lamaku sebagai Isabella Morison.” Gumamnya dengan perasaan yang begitu sesak. Saat kesadarannya perlahan menurun, tiba-tiba sebuah bayangan berkilau di atas permukaan kolam terlihat. ‘Siapapun itu, tolonglah aku,’ bisiknya parau. Byurrr! Tanpa ragu, seseorang meloncat ke dalam kolam kemudian menyelam dengan kecepatan luar biasa, meraih tubuh Isabella yang sudah lunglai dan menariknya ke permukaan dalam satu gerakan kuat. Dia adalah Alex. Pria dingin itu memang berniat menyusul Isabella untuk menemui bendahara istana. Siapa sangka, ia mendapat firasat buruk. Entah kenapa dia ingin berjalan-jalan ke belakang paviliun tersebut dan menemukan kolam di sa
Isabella memejamkan mata, berusaha mempertahankan akal sehatnya di tengah gempuran sensasi yang Alex ciptakan. Ia tahu ini adalah taktik Alex untuk mengalihkan perhatiannya agar ia menyerah.“Kau... kau pangeran yang tidak tahu aturan,”bisik Isabella parau.“Aturan? Di ruangan ini, akulah aturannya,” jawab Alex sebelum akhirnya membungkam protes Isabella dengan ciuman yang menuntut dan dalam.Ketika ciuman itu terlepas, Alex berbisik di telinganya. “Aku tidak suka kau merahasiakan sesuatu dariku.”Isabella terdiam mendengar kalimat yang bernada ancaman itu. ‘Maafkan aku, Alex, tolong bersabarlah. Ketika waktunya tiba, aku akan memberikanmu pewaris.’Alex menatap Isabella dalam-dalam, mencari kebenaran di balik sorot mata sang istri. Ada kilatan posesif yang begitu pekat, membuat Isabella merasa seolah-olah ia sedang dibaca oleh pria yang sangat mengenalnya. Tanpa sepatah kata lagi, Alex menarik diri, membetulkan pakaian Isabella yang sedikit berantakan, lalu menggendongnya keluar dari
…“Duke, Pangeran Alex tidak akan datang. Beliau sedang istirahat. Beliau baru saja pulang dari Kastel Hitam.” Noah melapor pada Duke Ronald yang sudah menunggu lama di paviliun bangsawan hanya untuk bertemu dengan Alex. Ronald adalah adik sepupu Valentin yang mewakili Klan Moreau untuk memprotes keputusan Alex yang menghukum putri mereka di paviliun. Mereka tengah menuntut keadilan.Pria berambut pirang itu mendengus kasar setelah mendengar kabar tersebut. Ia menatap Noah dengan tatapan yang tajam. “Kami akan menunggu beliau siap.” Jawabnya bersikukuh, tidak menyerah. Noah menatapnya dengan tatapan dingin yang paling mematikan yang pernah ada. “Pangeran Alex tidak menerima tamu saat ini. Tolong pahami etika. Beliau baru saja melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.”Duke Ronald mendecak sebal. “Kapan kami bisa bertemu kalau begitu? Ini urusan sangat mendesak.” Noah mendekat. Ia paling benci orang yang membantah dan bersikap semaunya. Apalagi ini titah pangeran. Tida
…Isabella terdiam ketika mendapat tawaran yang tidak main-main dari sang raja. Mengurus rumah tangga istana yang ditinggali oleh putra mahkota adalah tugas sangat berat tetapi sekaligus prestisius karena secara tidak langsung istana memberikan perlindungan kepadanya selain mengakui eksistensinya. Namanya akan semakin bersinar di istana dan ia akan mengangkat martabat Klan Laurent yang sempat jatuh akibat ulah ayahnya.Namun, selain keunggulan itu semua, tentu ada harga yang harus dibayar oleh Isabella yakni secara tidak langsung Isabella sedang menantang Klan Moreau. Dan, itu sangat berbahaya mengingat pengaruh klan itu sangat besar di istana Ashmond. Alex menatap istrinya lekat dengan penuh pengharapan. Tak sabar menunggu jawaban. Jika mengajak langsung ia tinggal di istana tentu saja orang pertama menentang adalah ibunya dan Isabella juga jelas-jelas menolaknya. Namun, cara ini adalah satu-satunya cara untuk menjerat istrinya yang cerdas dan berjiwa detektif itu. ‘Argh, aku pang
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman







