Alex berdiri tegap dengan tangan bertumpu pada hulu pedangnya, memperhatikan barisan pasukan yang perlahan memasuki gerbang utama Ashmond. Di hadapannya, Noah Von Frederic yang tampak letih tapi tetap sigap memberikan penghormatan militer dan melaporkan kepulangan rombongan pasukan terbaik Ashmond. Di belakangnya Johan Dubois menyusul. Di luar gerbang, suara terompet membahana, bersahut-sahutan dengan sorak-sorai rakyat yang menyambut pahlawan mereka. Namun, di mata Alex, perayaan itu terasa kontras dengan pemandangan di depannya.Dari dua ratus prajurit yang berangkat, laporannya mencatat realita yang dingin. Lima belas prajurit dinyatakan gugur di medan laga, lima puluh lainnya menderita luka parah tapi dalam kondisi stabil, sementara sisanya membawa luka ringan yang menjadi saksi bisu kerasnya pertempuran di perbatasan utara, Lembah Hitam. Alex tidak tersenyum. Baginya, setiap angka adalah nyawa. Ia menatap Noah dengan rahang mengeras, mengakui kemenangan ini bukan sebagai hadiah,
Read more