Alih-alih menjawab, Isabella memejamkan matanya, berusaha mengambil napas lalu mengembuskannya perlahan. Ia tengah menyusun karangan bebas di kepalanya, mencari alibi yang paling masuk akal untuk pria yang sedang meledak-ledak di depannya. Sejak dari pagi tadi, pria itu terus kepo dengan urusannya. Ia seperti kepala sipir penjara yang menginterogasinya seolah Isabella adalah buronan kelas kakap. “Kau belum makan siang ya?” tanya Isabella mengalihkan topik bahasan. Alex mengernyit. Dahinya berkerut dalam, menciptakan lipatan tajam di antara kedua alisnya. Jawaban macam apa itu?Alih-alih terlihat tenang, Alex semakin menekan Isabella ke pintu dengan penuh tuntutan. Namun, anehnya, gadis itu tidak merasa terintimidasi. Ia menatapnya tanpa berkedip. “Mulutmu bau Pangeran. Biasanya kalau belum makan, asam akan naik dan menyebabkan bau mulut. Lalu, emosi jadi stabil. Jadi, apapun jawaban yang aku sampaikan akan tetap tidak dianggap.”Alex menarik tangannya. Rahangnya mengetat. Ingatann
Read more