LOGINRestoran itu terlalu rapi untuk suasana hati Selin malam ini.
Lampu temaram yang hangat. Aroma makanan mahal. Musik yang mengalun pelan, menenangkan tapi justru bikin jantung Selin makin terdengar jelas di telinganya sendiri. Ia berjalan di belakang Papa dan Mama, sementara Dika menyusul di sampingnya. Langkah Selin melambat tanpa sadar. Ada perasaan aneh sejak tadi. Kayak mau ketemu sesuatu yang nggak siap dia hadapi. “Private room-nya sebelah sini Pak,” kata pelayan sambil membuka pintu geser kayu. Selin menarik napas. Begitu pintu terbuka— Langkahnya berhenti. Bukan karena ruangan itu penuh orang dewasa berwibawa. Bukan juga karena suasana formal yang bikin tegang. Tapi karena satu wajah di sudut ruangan itu. Wajah yang seharusnya sudah terkunci rapi di masa lalu. Wajah yang — tidak pernah ia duga akan muncul di sini. Selin refleks mundur setengah langkah. Cowok itu juga membeku. Tatapan mereka bertemu. Hanya satu detik. Tapi cukup untuk membuat dada Selin sesak. Kenapa dia? Dari sekian banyak cowok di dunia. Kenapa harus Rendra? "Silakan, Pak, Bu,” suara pelayan terdengar jauh. Mama menepuk punggung Selin pelan. “Masuk, Lin.” selin melangkah masuk seperti orang setengah sadar. Kakinya bergerak tapi otaknya tertinggal didepan pintu. Di dalam private room itu sudah ada dua keluarga. Papanya Rendra, Ardi Baskara berdiri lebih dulu, tersenyum lebar. “Ardan! Sekar! Akhirnya,” sapanya hangat. Papa dan Mama langsung membalas senyum, saling berpelukan. Sementara itu, Selin masih berdiri kaku di tempatnya. Dika yang ikut di belakangnya berdehem kecil. “Dek... kamu kenapa?” Selin nggak jawab. Rendra berdiri perlahan dari kursinya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap. Kemeja hitam yang dipakainya rapi, membingkai bahunya dengan pas. Wajahnya jelas berbeda dari yang Selin ingat. Lebih dewasa. Lebih tegas. Dan sialnya terlalu tampan untuk membuat Selin nyaman. Tatapan Rendra turun sebentar, lalu kembali naik. Datar dan tenang. Tidak ada senyum reflek. Tidak ada ekspresi kaget berlebihan. Justru itu yang bikin Selin makin salah tingkah. Dia masih sama, pikir Selin pahit. Pendiam. Susah ditebak. "Silakan duduk,” kata Ardi Baskara. Mereka akhirnya duduk berseberangan. Rendra tepat di hadapan Selin. Sial. "Selin?” Panggil papanya. "Hm?” Selin mengangkat wajah. Papa tersenyum. “Papa belum kenalin. Ini Om Ardi Baskara, teman lama Papa.” Selin mengangguk cepat. “Iya, Om.” “Dan ini anak Om,” lanjut Ardi Baskara sambil menoleh. “Rendra.” Nama itu jatuh di meja seperti benda berat. Selin menelan ludah. Rendra akhirnya berbicara. Suaranya lebih rendah dari yang Selin ingat. “Halo, Selin.” Ia mengulurkan tangannya. Satu kalimat. Tapi cukup membuat Selin ingin menghilang. “H-halo,” balas Selin singkat, sambil menjabat tangan Rendra. Sentuhan singkat. Hangat. Dan cukup buat jantung Selin salah irama. Dika melirik mereka bergantian. “Kalian sudah saling kenal?” “Eee… iya,” Selin buru - buru jawab. “Teman lama.” Rendra menggeser sudut bibirnya sedikit. Bukan senyum. Lebih kayak—hah, teman? ya sudah. Dika menyipitkan mata. “Lama gimana?” “Teman sekolah,” jawab Selin. “SMP,” tambah Rendra singkat. Hening sebentar. Mama dan Papa Selin terlihat kaget. Ardi Baskara tertawa kecil, bingung. “Loh? Kalian sudah saling kenal?” “Iya, Pa.” Jawab Rendra. “Dunia memang sempit ya,” kata Tante Vina sambil tersenyum. Selin pura-pura membaca menu. Padahal huruf- hurufnya menari nggak jelas. Tangannya dingin. Rendra duduk tegap. Terlalu tenang. Terlalu rapi. Dan itu bikin Selin makin nggak nyaman. Tante Vina membuka obrolan. “Kalian juga kelihatan sama-sama kaget.” Selin tertawa kecil. “Iya, Tante. Jujur kaget.” Rendra ikut mengangguk singkat. Mama Selin nyeletuk, “Mama kira kamu nggak kenal siapa calon—” “Ma,” potong Selin cepat. Dika menahan tawa. Ardi Baskara berdehem. “kita santai saja dulu. Anggap makan malam biasa.” Selin mengangguk, meski bahunya kaku. Tante Sekar menoleh ke Rendra. “Rendra sekarang sibuk banget ya? Papa kamu cerita sering ke luar kota katanya.” “Iya, Tante.” Jawab Rendra singkat “Kerja di mana sekarang?” Tante Sekar bertanya lagi. “Di perusahaan sendiri, tante.” jawab Rendra. Ardi Baskara tersenyum bangga, “Dia CEO.” Sendok Selin nyaris jatuh. CEO? Ia menoleh cepat. Rendra tidak menatapnya. Seolah jabatan itu bukan hal besar. Pantes auranya beda, pikir Selin. Agak dingin. “Wah,” Dika bersiul pelan. “Keren, Ren.” “Biasa aja kok, Mas.” jawab Rendra. Dan justru jawaban itu yang bikin Selin makin tidak berani menatapnya. Makan malam berjalan aneh. Semua orang ngobrol. Selin tersenyum di waktu yang tepat. Mengangguk saat perlu. Tapi pikirannya sibuk sendiri. Ada rasa bersalah yang mengendap. Ia ingin bilang maaf. Ia ingin bertanya kabar. Ia ingin lari sejauh mungkin. Tapi nggak satu pun terasa mungkin. Rendra sesekali menoleh ke arahnya. Tidak lama. Tidak intens. Tapi cukup membuat Selin menegakkan punggung. Dia ingat aku nggak ya? Tentu ingat. Aku yang mutusin. Ketika makanan hampir habis, Ardi Baskara berdehem pelan. “Kita langsung saja ya, Dan. “Jadi,” katanya hati-hati. “Kami mengundang makan malam ini dengan niat baik untuk bicara soal perjodohan anak-anak.” Selin langsung tegak. Rendra juga. Papa Ardan berkata, “Kami dan Sekar sebenarnya sudah lama ingin Selin settle. Dan kalau dengan keluarga Baskara, kami percaya.” Mama Selin melirik Selin seolah bilang: “tenang aja”. Tante Vina menambahkan, “Kalau kalian berdua nggak keberatan, kami ingin proses lamaran dipercepat.” Selin menelan ludah. Rendra diam beberapa detik. Lalu akhirnya bicara. Dengan suara pelan tapi jelas. “Saya tidak keberatan.” Selin langsung nengok ke arahnya. Rendra menatap balik sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Papa Ardan bertanya, “Selin?” Semua mata tertuju padanya. Jantung Selin rasanya mau copot. Tapi waktu dia lihat Rendra —yang jelas kaget, jelas mencoba tenang, jelas masih menyimpan sesuatu — Selin tahu jawabannya apa. “Aku juga nggak keberatan, Pa." Mama Selin langsung senyum lebar. Papa tepuk tangan kecil. Dika melongo. “Cepet amat.” Orang tua Rendra terlihat bahagia. Sementara itu Selin dan Rendra cuma bisa saling lirik sebentar— yang artinya: kita beneran mau nikah? serius? sekarang? Tapi tidak ada yang bilang apa-apa. Karena mungkin di dalam hati mereka, keduanya sama-sama tahu— rasa lama itu nggak benar-benar hilang. Cuma ketimbun waktu. Dan sekarang kebuka lagi.Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia
Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel
Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan
Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil
Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam
Keesokan paginya di kantor, suasana hati Rendra benar-benar berada di titik nadir. Asisten pribadinya, Beni, masuk ke ruangan dengan wajah serius membawa sebuah tablet. “Pak, saya sudah cek CCTV lobi kemarin," ujar Beni tanpa basa-basi. Rendra mendongak, matanya yang sedikit memerah menunjukkan bahwa ia kurang tidur. "Siapa yang antar paketnya?" “Namanya Devan, Pak. Mantan kekasih Bu Selin waktu kuliah. Saya telusuri jejak digitalnya. Dia baru kembali ke Indonesia sebulan lalu." Rendra menatap foto Devan di layar. Wajah yang asing, namun tatapannya terlihat penuh obsesi. "Apa hubungannya denganku? Kenapa dia menyerangku lewat foto-foto ini?" “Ini yang menarik, Pak," Beni menggeser layar. "Devan ini adik tiri dari salah satu pemegang saham di perusahaan kompetitor kita yang kalah tender besar bulan lalu. Dia bukan cuma mau merusak hubungan pribadi Bapak, tapi dia juga punya dendam profesional karena Bapak dianggap menghancurkan karier kakaknya." “Motif klasik," gumam Rendra dingin







