Home / Romansa / Sisa Rasa / Bab 7 : Ini Mobil Apa Kaleng Biskuit?

Share

Bab 7 : Ini Mobil Apa Kaleng Biskuit?

Author: NN
last update publish date: 2026-02-14 00:45:19
Rendra datang ke rumah sakit pagi-pagi, sebelum jam kunjungan benar-benar ramai. Parkiran rumah sakit pun belum penuh. Rendra mematikan mesin mobil, duduk sebentar tanpa langsung turun. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum ia harus ke kantor polisi.

Ia menghela napas pendek.

Entah kenapa, langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya saat masuk ke gedung rumah sakit.

Lorong rawat inap masih lumayan sepi. Suara sepatu perawat beradu pelan den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sisa Rasa   Bab 13 : Bali part 2

    Pagi di Bali sekitar pukul lima, langit masih berwarna biru keabu-abuan ketika Selin membuka tirai kamar hotelnya dikawasan Uluwatu. Hari ini adalah hari kedua sesi pre-wedding, jadwalnya lebih santai.Ia sudah siap lebih dulu memakai dress selutut, berwarna sage dengan potongan sederhana, memakai riasan yang natural serta rambutnya dibiarkan tergerai.Beberapa menit kemudian mereka sama-sama keluar dari kamar masing-masing. Rendra keluar dengan kaos polos dan celana chino, rambutnya masih sedikit basah.Mereka sama-sama berhenti.“Pagi,” kata Rendra duluan.“Pagi.”“Kita sarapan?” tanya Rendra, nadanya santai.Selin mengangguk. "Oke.”Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong hotel yang masih sepi menuju lift.Di dalam lift, hanya ada mereka berdua.“Kamu tidurnya gimana?” tanya Rendra sambil menatap angka lantai yang turun perlahan.“Lumayan. Kamu?”“Enak. Jarang bisa bangun tanpa alarm rapat.”Lift terbuka. Mereka keluar dan berjalan menuju restoran hotel yang menghadap taman d

  • Sisa Rasa   Bab 12 : Bali part 1

    Jumat pagi, Bandara Soekarno-Hatta cukup padat. Rendra berdiri di dekat area check-in mandiri. Laki-laki itu mengenakan kemeja linen tipis dengan lengan yang digulung hingga siku, jauh dari kesan formal biasanya. "Sudah lama?" tanya Selin, sedikit gugup sambil merapatkan tote bag-nya. Rendra menoleh, lalu menggeleng pelan. "Baru sepuluh menit." Tanpa menunggu persetujuan, ia mengambil alih koper kecil yang ditarik Selin. "Sini aku yang bawa." "Eh, nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok," ujar Selin agak kaget. "Biar aku aja. Sudah sarapan?" tanya Rendra. Selin menggeleng. " Belum sempat, takut telat." "Nanti di lounge saja sambil nunggu boarding." Pagi ini, udara terasa berbeda. Ada kecanggungan tipis yang menggantung di antara mereka seperti lembaran kertas kosong yang baru saja dibuka. *** Sepanjang penerbangan, Rendra tidak banyak bicara. Namun, sikap dan perhatiannya pada Selin menunjukkan lebih banyak dari pada kata-kata. Saat Selin mulai terlihat mengantuk karena kurang ti

  • Sisa Rasa   Bab 11 : Mulai Terlihat

    Senin pagi tiba. Rendra sudah duduk di ruang kerjanya sebelum jam delapan. Biasanya, begitu sampai ia langsung membuka laptop, mengecek laporan, lalu tenggelam dalam rangkaian rapat yang nyaris tanpa jeda. Tapi pagi ini berbeda. Ia justru membuka ponselnya lebih dulu. Nama Selin ada di barisan paling atas percakapan mereka. Obrolan terakhir mereka masih soal vendor dan rencana foto prewedding di Bali. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mulai mengetik. Sudah sampai kantor? Pesan terkirim. Beberapa menit berlalu, belum juga ada balasan. Rendra menaruh ponselnya di meja, dan kembali fokus ke email yang masuk. Lima menit kemudian layar ponselnya menyala. Sudah. Kamu sudah di kantor? Rendra membalas cepat. Sudah dari tadi. Ia menatap layar sebentar, lalu menambahkan: Sudah sarapan? Jawaban datang satu menit kemudian. Roti sama kopi. Rendra membalas cepat. Jangan cuma kopi. Beberapa detik kemudian, muncul balasan: Iya, Pak CEO 😊 Ada emoji senyum kecil di ujung

  • Sisa Rasa   Bab 10 : Kamu Berubah

    Sabtu sore itu, Rendra datang lima belas menit lebih awal. Mobilnya berhenti di depan rumah Selin. Sebenarnya hari ini tidak ada agenda besar. Hanya janji ketemu dengan vendor catering dan wedding organizer untuk membahas gedung resepsi dan konsep dekorasi. Pertemuan itu memang sudah dijadwalkan, bukan alasan yang dibuat-buat. Tapi jujur saja, Rendra bisa saja menyuruh asistennya yang datang. Rendra memperhatikan pintu rumah Selin. Tak lama perempuan itu keluar sambil membawa tas kecil dan map tipis di tangan. Selin masuk ke mobil tanpa banyak ekspresi. “Tumben sudah sampai, Ren.” katanya sambil memasang sabuk pengaman. Rendra mengangguk pelan. “Nggak ada meeting.” Seperti biasa, singkat jawabnya. Mobil mulai jalan. Nggak ada obrolan tambahan sampai mereka tiba di sebuah resto dengan ruang VIP di lantai dua. Suasananya cukup tenang, tipe tempat yang biasa dipakai untuk pertemuan privat. Vendor catering dan tim dekorasi sudah menunggu di dalam. Diskusi berjalan hampir satu jam.

  • Sisa Rasa   Bab 9 : Garis yang Mulai Retak

    Pagi itu, Mama Selin sudah sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu sambil mengingatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diingatkan. “Jangan lupa bawa hasil CT scan yang kemarin ya, Lin.” “Iya, Ma. Sudah di tas.” “Air minum?” “Ada.” Selin menjawab semua dengan nada tenang. Tidak terburu-buru. Tidak kesal. Tidak juga bercanda seperti biasanya. Janji kontrol hari ini sebenarnya hanya formalitas. Sejak kecelakaan itu, gegar otaknya tergolong ringan. Pusing sudah jarang dan mual hampir tidak ada. Tapi tetap saja, Mama ingin memastikan semuanya benar-benar baik. Rendra datang terlambat. Seperti biasa. Mobilnya berhenti tepat ketika Selin dan Mama sudah berdiri di teras. Ia turun dengan kemeja rapi dan wajah yang terlihat belum benar-benar lepas dari urusan kantor. “Maaf, Tante. Tadi ada meeting yang harus aku tanda tangani dulu,” katanya sopan. “Iya Nak, kalau sibuk gak usah anter Selin juga gak papa.” jawab Mama. “Gak masalah kok Tante, saya ingin pastiin Selin sud

  • Sisa Rasa   Bab 8 : Lelah Menunggu

    Dua hari kemudian, dokter mengizinkan Selin pulang. Perjalanan pulang ke Jakarta terasa lebih lama dari biasanya. Padahal jalannya sama, tol-nya juga itu-itu lagi. Dika nyetir sambil sesekali melirik spion. “Pusing nggak dek?” tanyanya. “Enggak Kak. Aman,” jawab Selin. Padahal kepalanya masih terasa berat sedikit. Bukan karena gegar otaknya. Lebih ke pikiran yang belum selesai. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Rendrapun masuk. Akhirnya muncul juga. Sudah sampai mana? Baru keluar tol. Hati-hati. Iya. Habis itu nggak ada apa-apa lagi. Ia mematikan layar ponsel dan menyandarkan kepala ke kursi. Biasanya Selin yang cerewet. Kirim foto macet, kirim voice note, atau bercanda hal yang random. Tapi kali ini dia simpan ponselnya. Udah capek duluan rasanya. Sampai rumah, Mama langsung ribut sendiri. Dika membantu menurunkan tas. Papa langsung masuk duluan, seperti biasa. Mama menyuruh Selin duduk dulu di sofa. “Kamu jangan langsung naik tangga. Duduk dulu. Minum dulu.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status