Beranda / Romansa / Sisa Rasa / Bab 7 : Ini Mobil Apa Kaleng Biskuit?

Share

Bab 7 : Ini Mobil Apa Kaleng Biskuit?

Penulis: NN
last update Tanggal publikasi: 2026-02-14 00:45:19
Rendra datang ke rumah sakit pagi-pagi, sebelum jam kunjungan benar-benar ramai. Parkiran rumah sakit pun belum penuh. Rendra mematikan mesin mobil, duduk sebentar tanpa langsung turun. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum ia harus ke kantor polisi.

Ia menghela napas pendek.

Entah kenapa, langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya saat masuk ke gedung rumah sakit.

Lorong rawat inap masih lumayan sepi. Suara sepatu perawat beradu pelan den
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sisa Rasa   Bab 22 : Malam Pertama Part 2

    Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia

  • Sisa Rasa   Bab 21 : Malam Pertama Part 1

    Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel

  • Sisa Rasa   Bab 20 : Kemeriahan Pesta di Grand Ballroom

    Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan

  • Sisa Rasa   Bab 19 : Janji Suci di Glass House

    Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil

  • Sisa Rasa   Bab 18 : Persiapan Calon Pengantin

    Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam

  • Sisa Rasa   Bab 17 : Bukan Kebetulan

    Keesokan paginya di kantor, suasana hati Rendra benar-benar berada di titik nadir. Asisten pribadinya, Beni, masuk ke ruangan dengan wajah serius membawa sebuah tablet. “Pak, saya sudah cek CCTV lobi kemarin," ujar Beni tanpa basa-basi. Rendra mendongak, matanya yang sedikit memerah menunjukkan bahwa ia kurang tidur. "Siapa yang antar paketnya?" “Namanya Devan, Pak. Mantan kekasih Bu Selin waktu kuliah. Saya telusuri jejak digitalnya. Dia baru kembali ke Indonesia sebulan lalu." Rendra menatap foto Devan di layar. Wajah yang asing, namun tatapannya terlihat penuh obsesi. "Apa hubungannya denganku? Kenapa dia menyerangku lewat foto-foto ini?" “Ini yang menarik, Pak," Beni menggeser layar. "Devan ini adik tiri dari salah satu pemegang saham di perusahaan kompetitor kita yang kalah tender besar bulan lalu. Dia bukan cuma mau merusak hubungan pribadi Bapak, tapi dia juga punya dendam profesional karena Bapak dianggap menghancurkan karier kakaknya." “Motif klasik," gumam Rendra dingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status