Home / Romansa / Sisa Rasa / Bab 6 : Gegar Otak Ringan

Share

Bab 6 : Gegar Otak Ringan

Author: NN
last update publish date: 2026-02-04 00:24:00

Setibanya di IGD Rumah Sakit Bandung, masuklah mama Sekar, dengan wajah pucat dan mata merah. Di belakangnya ada Kak Dika dan Pak Ardan, Papa Selin yang biasanya tenang, tapi kali ini alisnya berkerut dalam dan langkahnya cepat. Mereka berdua langsung menuju ke arah ranjang Selin.

“Ya Allah Selin. . .” Mama Sekar yang melihat putrinya terbaring dengan dahi yang di perban dan selang infus di tangan kirinya langsung memeluk putrinya pelan, air matanya menetes di bahu Selin. Suaranya bergetar.

Sedangkan Papa Selin yang berada di sebelahnya mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Dika yang berdiri di sisi lain ranjang dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat adiknya yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya.

Selin, yang masih setengah sadar akibat obat penghilang rasa sakit, merasakan ada tangan hangat menggenggamnya. Ia membuka mata perlahan. Bayangan kabur perlahan membentuk wajah yang sangat ia kenali.

“Ma. . . ma ?” bisiknya lemah. Mama Sekar tersenyum di antara air mata.

“Iya sayang, mama disini.” Jawab Mama Sekar pelan.

“Ma, Pa. . . Maaf, Adek dah bikin semuanya jadi kuatir. Adek gak bisa menghindar Ma, tiba-tiba ada mobil didepan karna hujan nya deras sekali sampai gak kelihatan jalannya.” ungkap Selin.

“Iya Nak, namanya juga musibah yang penting sekarang kamu selamat.” Jawab Papa Selin, sambil tangannya memegang pundak Selin.

Tak lama kemudian, Dokter dan perawat masuk untuk menjelaskan tentang kondisi Selin saat ini. Hasil CT scan yang dilakukan tidak ada cedera berat, hanya gegar otak ringan, luka robek di dahi pun sudah dijahit dan ada memar di dada. Untungnya tidak ada patah tulang atau perdarahan didalam.

Pasien hanya perlu rawat inap 2–3 hari untuk observasi gegar otak dan pemulihan luka jahitan.

“Syukurlah. . .” Ucap Papa dan Mama Selin penuh kelegaan.

Saat Rendra masuk ke IGD dengan langkah cepat, pandangan Selin langsung tertuju pada kemejanya yang sedikit basah. Bekas air hujan masih menempel, membentuk corak acak di kainnya. Entah kenapa, dada Selin ikut terasa dingin melihatnya.

“Rendra.”

Dika memanggil dari arah depan. Rendra menoleh, lalu berjalan mendekat. Ia lebih dulu menghampiri kedua orang tua Selin, menunduk sopan, dan menyalami mereka satu per satu. Wajahnya tetap tegang, tapi sikapnya terjaga.

Baru setelah itu, Rendra menoleh ke arah Selin. Pandangan mereka bertemu—singkat, hening—sebelum akhirnya ia menyapanya.

Rendra berdiri di samping tempat tidur Selin. Jaraknya cukup dekat.

“Selin, gimana sekarang?” tanyanya.

Selin menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan. “Masih . . . pusing dikit,” jawabnya jujur.

Rendra mengangguk kecil. “Kepalanya sakit?”

“Iya,” Selin mengangguk. “Tapi udah mendingan.”

Belum sempat Rendra bertanya lagi, Om Ardan melangkah mendekat.

“Dokter bilang Selin kena gegar otak ringan,” katanya tenang. “Nggak parah, tapi tetap harus observasi. Dia sempat kehilangan fokus setelah kecelakaan.”

Rendra langsung menoleh ke Papa Selin. “Harus rawat inap, Om?”

“iya, kata dokter dua sampai tiga hari.” jawab Om Ardan.

Rendra mengangguk. Wajahnya tetap datar, tapi rahangnya mengeras sesaat.

Selin menggigit bibir. Ia kembali menatap Rendra, ragu, lalu akhirnya bertanya, “Kamu. . . kok bisa ke sini?”

Pertanyaan itu membuat suasana hening sejenak.

Rendra melirik sekilas ke arah Papa dan Mama Selin, lalu kembali ke Selin.

“Mas Dika yang ngabarin,” jawabnya. “jadi aku langsung kesini.”

Langsung.

Kata itu berputar-putar di kepala Selin.

“Oh,” gumamnya.

“Iya,” Rendra mengangguk tipis. “Tapi yang penting kamu aman.”

Selin terdiam. Dadanya menghangat dengan cara yang tak ia siapkan.

Om Ardan memperhatikan mereka berdua, lalu berkata pelan, “Terima kasih sudah menyempatkan datang, Ren.”

Rendra sedikit menunduk. “Sudah seharusnya, Om.”

Suasana kembali sunyi setelah itu. Hanya suara alat monitor dan langkah perawat yang sesekali lewat.

“Kamu harus banyak istirahat dulu,” kata Rendra akhirnya.

Selin mengangguk. “Iya.”

Jawaban itu terlalu singkat untuk semua yang ada di kepalanya.

Papa Selin menoleh ke Mama. “Aku ke luar sebentar, urus administrasi.”

“Aku temani Pa.” Balas Mama Selin

“Aku mau ngopi dulu ma, sekalian beli minum.” Celetuk Dika.

Mereka menatap singkat ke arah Selin, seolah mereka sengaja memberi ruang — lalu satu persatu keluar.

Begitu pintu menutup, keheningan berubah. Lebih berat.

Rendra menarik kursi, duduk di samping ranjang, tetap menjaga jarak.

“Kamu nyetir sendiri pas hujan deras?” tanyanya.

Selin mengangguk pelan. “Iya. Jalanan nggak kelihatan. Aku pikir masih aman.”

Rendra menghela napas. Pelan, tapi terdengar.

“Lain kali jangan memaksakan diri,” katanya datar.

Selin menoleh cepat. “Kamu juga,” balasnya spontan. “Datang sejauh ini sendirian.”

Rendra terdiam.

“Aku khawatir,” jawabnya akhirnya. Singkat. Jujur.

Selin menunduk, jarinya meremas selimut.

“Makasih sudah khawatir, aku pikir kamu akan cuek.”

Rendra menatapnya. Lama.

“Bagaimana bisa aku cuek dengan calon istriku sendiri,” kalimat itu mengalir begitu saja. Tanpa dibuat-buat.

Jantung Selin berdegup terlalu kencang.

Langkah kaki terdengar dari luar. Rendra langsung berdiri, kembali memasang jarak yang rapi.

Papa dan Mama masuk kembali.

“Dokter bilang Selin bisa dipindah ke ruang rawat inap,” kata Tante Sekar.

Rendra mengangguk. “Baik, Tante.”

Ia menoleh ke Selin. “Aku tunggu di luar.”

Selin mengangguk pelan.

Di Kamar Rawat Inap

Kamar rawat inap terasa lebih tenang. Lampunya redup, tirai setengah tertutup. Selin sudah dipindahkan ke ranjang baru ketika Rendra masuk bersama Papa dan Mama Selin.

“Lebih nyaman disini,” kata Mama sambil merapikan selimut.

“Iya Ma,” jawab Selin lirih.

Om Ardan menoleh ke Rendra. “Kamu langsung mau pulang ke Jakarta, Ren?”

Rendra menggeleng.

“Nggak, Om.”

“Kamu bukanya nyetir sendiri. . .”

Rendra menatapnya.

“iya, makannya gak pulang malam ini.”

“Kenapa?” Selin reflek bertanya.

“Capek. Lagian ini sudah malam dan hujan. Aku gak mau ambil resiko.” Jawabnya tenang. “Aku cari hotel deket sini aja.”

“Betul nak Rendra, kalo capek mendingan jangan dipaksa. Kabari orang tuamu juga nak Rendra.” Saran Tante Sekar.

“Iya Tan, tadi juga sudah telepon mama kasih tau kabar Selin.” Jawab Rendra.

“Oh ya Mas, besok temani Papa ke kantor polisi urus mobil Selin.” Sela Papa

“Biar aku sama mas Dika aja Om yang kesana.” Ucap Rendra tanpa ragu.

“Om malah nanti ngrepotin kamu, Ren.” Timpal Om Ardan.

“Nggak ngrepotin kok Om.” Katanya

“Pa, mobil aku ringsek. Kayaknya parah.” Kata Selin menatap Papanya.

“Bisa diurus.” Potong Rendra lembut.

Rendra mengeluarkan ponselnya.

“Asuransi masih aktif. Besok pagi, aku sama Mas Dika urus laporan kecelakaan sekalian derek resmi. Mobilnya aku bawa langsung ke bengkel langganan di Jakarta, Om.”

Papa Selin menatap Rendra agak lama.

“Kamu yakin nggak keberatan, Ren?”Rendra mengangguk.

“Kamu nggak harus —“

“Selin,” potong Rendra pelan.

“Sekarang tugas kamu cuma satu. Istirahat.”

Hening sebentar.

Mama Selin menarik napas lega. “Syukurlah ada kamu, nak Rendra.”

Rendra hanya mengangguk sopan.

“Ren. . .”

Rendra menoleh.

“Makasih,” katanya

Rendra mengangguk kecil.

“Istirahat, aku ke hotel dulu. Besok kesini lagi.”

Selin mengangguk.

Setelah itu Rendra berpamitan sama Orang tua Selin dan kakaknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sisa Rasa   Bab 22 : Malam Pertama Part 2

    Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia

  • Sisa Rasa   Bab 21 : Malam Pertama Part 1

    Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel

  • Sisa Rasa   Bab 20 : Kemeriahan Pesta di Grand Ballroom

    Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan

  • Sisa Rasa   Bab 19 : Janji Suci di Glass House

    Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil

  • Sisa Rasa   Bab 18 : Persiapan Calon Pengantin

    Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam

  • Sisa Rasa   Bab 17 : Bukan Kebetulan

    Keesokan paginya di kantor, suasana hati Rendra benar-benar berada di titik nadir. Asisten pribadinya, Beni, masuk ke ruangan dengan wajah serius membawa sebuah tablet. “Pak, saya sudah cek CCTV lobi kemarin," ujar Beni tanpa basa-basi. Rendra mendongak, matanya yang sedikit memerah menunjukkan bahwa ia kurang tidur. "Siapa yang antar paketnya?" “Namanya Devan, Pak. Mantan kekasih Bu Selin waktu kuliah. Saya telusuri jejak digitalnya. Dia baru kembali ke Indonesia sebulan lalu." Rendra menatap foto Devan di layar. Wajah yang asing, namun tatapannya terlihat penuh obsesi. "Apa hubungannya denganku? Kenapa dia menyerangku lewat foto-foto ini?" “Ini yang menarik, Pak," Beni menggeser layar. "Devan ini adik tiri dari salah satu pemegang saham di perusahaan kompetitor kita yang kalah tender besar bulan lalu. Dia bukan cuma mau merusak hubungan pribadi Bapak, tapi dia juga punya dendam profesional karena Bapak dianggap menghancurkan karier kakaknya." “Motif klasik," gumam Rendra dingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status