Dadaku menghangat. "Tentu saja aku khawatir. Kau suamiku." Kata-kata itu menggantung di udara. Lebih berarti daripada sebelumnya. "Juliet," bisiknya. Suara lebih dekat sekarang. Seperti dia bergerak lebih dekat. "Tentang di kereta tadi. Saat aku hampir—" "Aku tahu," potongku cepat. Wajah panas mengingat. "Tidak apa-apa." "Tidak apa-apa? Maksudmu—" "Maksudku aku tidak keberatan." Suaraku hampir tidak terdengar. "Kalau kau mau." Hening total. Kemudian suara napas Dillard jadi lebih cepat. Lebih pendek. "Kau tidak keberatan?" tanyanya. Suara serak. "Tidak." Aku dengar dia bergerak. Lebih dekat. Bantal pembatas bergeser. "Juliet, aku—" Suara keras dari luar. Tawa pedagang yang mabuk. Bernyanyi tidak jelas. Menabrak dinding. Momen hancur. Dillard berhenti bergerak. Taruh bantal kembali ke posisi semula. "Kita harus tidur," katanya. Suara kembali terkontrol. "Besok masih perjalanan panjang." "Ya," jawabku. Kecewa tapi juga lega. "Selamat malam." "Selamat malam." Aku tutup m
Last Updated : 2026-02-18 Read more