"Aku juga tidak." Lincoln melangkah masuk. Memaksa masuk meski Dillard menghalangi. "Kau sahabatku sejak kita anak-anak. Dan aku sudah lihat kau seperti ini sekali. Aku tidak akan biarkan terjadi lagi."Dillard mundur. Wajah berubah. Ada sesuatu di sana. Rasa sakit lama. Luka yang belum sembuh."Lagi?" bisikku. Menatap mereka berdua. "Ini pernah terjadi sebelumnya?"Lincoln menoleh. Menatapku. Ragu. Seperti tidak yakin harus bilang atau tidak."Jangan," kata Dillard keras. Memperingatkan. "Jangan bilang dia apa-apa, Lincoln. Ini bukan urusannya dan bukan urusanmu.""Dia istrimu, Dillard. Dia berhak tahu kenapa suaminya menghancurkan ruangan dan menyakiti diri sendiri.""Dia tidak perlu—""Elise," kata Lincoln pelan. Mengabaikan peringatan Dillard. Menatapku langsung sekarang. "Ini pernah terjadi saat Elise meninggal tujuh tahun lalu."Jantungku berhenti. "Elise...""Dia adik Dillard," lanjut Lincoln. Suaranya pelan tapi jelas. Setiap kata seperti pukulan. "Adik satu-satunya. Meninggal
Last Updated : 2026-02-22 Read more