Kami berbaring seperti itu. Masih berpelukan. Membiarkan detak jantung perlahan kembali normal."Apa aku tadi terlalu kasar?" tanyanya akhirnya. Suara lelah tapi khawatir."Tidak. Kau sempurna."Dia tarik aku lebih erat ke pelukannya. Kami berbaring dalam diam. Saling peluk. Menikmati kehangatan setelah badai."Juliet," bisiknya di rambutku. Dia cium dahiku. "Tidur. Kau pasti lelah.""Kau juga.""Ya. Tapi aku mau bangun sedikit lebih lama. Mau merasakan ini lebih lama.""Rasakan apa?""Kebahagiaan." Pelukannya mengencang. "Aku benar-benar bahagia."Air mataku turun lagi. Tapi kali ini air mata bahagia. "Aku juga," bisikku. "Aku juga bahagia."Dan kami tertidur seperti itu. Berpelukan. Menyatu. Suami istri dalam arti sebenarnya.*Cahaya fajar masuk pelan lewat celah tirai. Oranye lembut menyapu wajah Dillard yang masih tidur.Aku sudah terjaga sejak sebelum matahari terbit. Tidak bisa tidur lagi. Terlalu sadar ini pagi terakhir.Pagi terakhir sebelum dia pergi.Aku berbaring menyampi
Last Updated : 2026-02-24 Read more