Aku berdiri cepat sebelum kesempatanku untuk pergi itu mendadak hilang.Dan benar saja, saat aku baru meraih celana panjangku di sandaran kursi, Kak Lora kembali bicara.“Bay.”Aku menoleh.Ia duduk di sofa sambil menopang dagu, menatapku dengan senyum tipis yang terlalu cantik untuk diabaikan.“Kutunggu nanti malam, ya.”Aku langsung tertawa pendek sambil menggeleng.“Waduh, aku harus puding stamina, nih. Kakiku saja uda gemetaran ini.”“Aku serius, Bay. Kakak masih menginginkanmu. Kamu sudah berjanji tadi. Tidak usah pernikahan katamu tetapi kita boleh seperti malam pengantin.”“Kakak ini mantan korban pemerasan atau calon pemeras baru sih?” kesalku sambil memasukkan ujung kemejaku ke dalam celana.Ia melempar bantal sofa kecil ke arahku sambil tertawa."Anggap saja, aku pengantin barumu, dong...""Iya, iya, Sayangku, cintaku. Aku akan singgah ke apotik dan membeli obat penambah stamina agar bisa membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi," kekehku seraya bercanda dan mengerling naka
Read more