“Apa?” Emily berbisik tidak percaya pada ucapan Lucien. “Kau benar-benar ….”Tangisan Emily pecah. Dia tidak sanggp menyelesaikan ucapannya. Suara isakannya terdengar pilu, sebuah perpaduan antara rasa sakit fisik yang dialaminya dan kehancuran batin.Gambaran ayah dan ibu angkatnya yang berlutut di lumpur, mengemis belas kasihan pada pria yang baru saja menodainya ini, terus berputar di benak Emily.Lucien Montague, yang masih berdiri di dekat pintu, tidak bergeming melihat pemandangan menyedihkan itu. Hatinya telah lama membeku.Dengan langkah pelan, Lucien kembali mendekati ranjang. Dia berdiri menjulang di samping Emily, membiarkan bayangannya menutupi tubuh istrinya yang gemetar.Tanpa peringatan, tangan besar Lucien terulur dan mencengkeram dagu Emily dengan kuat. Dia memaksa wajah Emily terangkat dari bantal. Cengkeramannya tidak kasar, tetapicukup kuat untuk memastikan Emily tidak bisa memalingkan wajah."Berhenti menangis," perintah Lucien datar.Mata cokelat Emily yang basah
続きを読む