Share

Bab 79: Reuni

last update publish date: 2026-05-03 12:06:16

"Bukankah kau seharusnya sedang melayani suamimu yang mulia itu di atas ranjang sutra, Emily? Mengapa kau malah membawa bau kemelaratanmu ke pintu depanku?"

Suara Jasper Fitzwilliam terdengar parau, tajam, dan penuh dengan racun. Begitu pintu gudang itu terbuka sepenuhnya dengan derit engsel yang memilukan, bau alkohol murah yang menyengat bercampur aroma apek dari jerami basah langsung menyerbu indra penciuman Emily.

Emily terhuyung mundur selangkah,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 94: Titik Lemah yang Terbuka

    "Keluar dari sini, Alice! Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu sekarang!"Suara Lucien Montague menggelegar. Dia tidak suka memikirkan jika Emily kabur dengan pria lain.Ditatapnya Alice dengan mata yang merah perpaduan antara kemurkaan, kurang tidur, dan sisa alkohol yang masih membakar kepalanya.Alice tersentak, tangannya yang semula mencoba menyentuh lengan Lucien segera ditarik kembali. Wajah cantiknya memucat karena gertakan yang belum pernah diterima sebelumnya."Lucien, aku hanya ingin membantumu menyadari kebenarannya," Alice mencoba membela diri dengan suara gemetar, air mata palsunya mulai menggenang. "Emily mengkhianatimu. Dia lari seperti pengecut setelah semua kemurahan hati yang kau berikan. Tidakkah kau sadar kalau dia hanya memanfaatkan celah untuk—""Kemurahan hati?" Lucien memotong ucapan Alice lalu tertawa sinis. Langkahnya mendekat hingga Alice terpojok ke pintu. "Aku tahu apa yang kulaku

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 93: Amukan Sang Marquess

    "Buka pintunya. Aku ingin melihat apakah dia sudah cukup merenungi kesalahannya."Suara bariton Lucien Montague menggema di lorong sayap utama yang masih remang. Sinar matahari pagi yang pucat mencoba menembus kaca jendela mansion setelah badai besar semalaman.Namun, suasana di dalam rumah itu tetap terasa dingin. Lucien berdiri tegak di depan pintu kamar utamanya seraya merapikan kerah kemejanya yang masih sedikit berantakan.Ada kegelisahan yang tidak wajar merayap di dadanya sejak terbangun. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah sisa amarah, namun tangannya sedikit gemetar saat meraih gagang pintu.Dia berniat memberikan sedikit "kelonggaran" pada Emily. Mungkin membiarkannya makan di ruang makan atau sekadar memberinya udara segar di balkon setelah penyatuan paksa dan pengakuan dosa keluarga Fitzwilliam kemarin."Nyonya Emily belum bersuara sejak kemarin, Milord," l

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 92: Menembus Tirai Malam

    "Lari! Lebih cepat, kawan! Jangan biarkan mereka mengejar kita!"Suara Emily pecah di tengah deru angin badai seolah-olah sedang menantang petir yang baru saja menyambar.Dia membungkuk rendah di atas leher kuda cokelatnya, mencengkeram tali kekang dengan jari-jari yang sudah mati rasa karena kedinginan. Hujan deras yang turun bagaikan ribuan jarum tajam langsung menyapu wajahnya begitu memacu kudanya meninggalkan perbatasan terakhir mansion Montague."Hanya sedikit lagi, kita akan aman. Kita harus menjauh dari kota terkutuk ini!" teriaknya lagi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kuda di bawahnya.Air hujan masuk ke matanya, membuatnya perih dan memburamkan pandangan, namun Emily tidak peduli. Dia terus menendang sisi perut kuda itu, menuntut kecepatan yang lebih tinggi menembus kegelapan malam.Emily tidak memiliki peta, tidak memiliki rencana, dan tidak memiliki tuju

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 91: Senyum Sang Pemenang

    "Malam yang sangat sempurna untuk sebuah akhir yang tragis, bukan begitu?"Alice berbisik pelan pada pantulannya sendiri di kaca jendela lantai dua sayap utama.Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin badai yang menghantam dinding mansion Montague, namun getaran kepuasan dalam nadanya tidak bisa disembunyikan.Tangannya yang ramping, masih terbungkus sarung tangan sutra, menyibak sedikit tirai beludru berat, memberikan celah kecil baginya untuk mengintip ke arah kegelapan halaman belakang.Di bawah sana, di tengah guyuran hujan, Alice melihat bayangan samar sesosok wanita yang sedang bersusah payah menaiki seekor kuda. Kilatan petir yang menyambar menerangi siluet Emily selama sepersekian detik sebelum kegelapan kembali menelannya.Alice memperhatikan dengan saksama hingga kuda itu dipacu menembus gerbang belakang dan menghilang di balik pepohonan hutan yang hitam. 

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 90: Keluar Menembus Badai

    "Apakah ini benar-benar akhir dari segalanya, ataukah awal dari kehancuran yang lebih besar?"Emily berbisik pada kegelapan kamar utama yang kini terasa asing baginya. Suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh deru angin yang menghantam kaca jendela.Cuaca Ashwood seolah tidak pernah mengizinkan Emily untuk bernapas lega. Badai baru kembali menggulung di atas kota, membawa awan hitam yang tampak menindih atap-atap mansion Montague.Kilat menyambar di kejauhan, menerangi ruangan itu selama sepersekian detik, memperlihatkan siluet Emily yang terbungkus jubah perjalanan tebal berwarna hitam pemberian Alice.Emily menarik tudung jubahnya untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya yang pucat. Dia membalikkan badan, menatap ranjang berkanopi besar yang menjadi saksi bisu penghinaan dan rasa sakitnya selama beberapa malam terakhir.Kemudian, dia menatap meja rias di mana cincin

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 89: Melepas Ikatan Terakhir

    "Nyonya Emily? Apakah Anda sudah di dalam? Saya membawakan baki air hangat dan sedikit teh chamomile untuk membantu Anda beristirahat."Suara ketukan pelan di pintu ganda kamar utama itu seketika memutus lamunan kelam Emily. Dia tersentak. Dengan cepat menyembunyikan tas kain dan kantong uang pemberian Alice ke bawah kolong ranjang berkanopi yang besar.Jantungnya berdegup kencang, takut jika yang datang adalah Lucien atau Gable yang akan menginterogasinya kembali.“Nyonya Emily?”Suara itu memanggil lagi. Dan kini Emily menghela napas pelan karena mengetahui pemilik suara itu. Sejenak alisnya berkerut mendengar sapaan ‘Nyonya’ untuknya. Kemudian dia tidak ingin memikirkannya.Mungkin Geraldine hanya ingin bersikap sopan padanya. Mengingat dia adalah istri dari Lucien. Memikirkan itu membuat Emily merana."Masuklah, Geraldine," jawab E

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 18: Hukuman Untuk Emily

    “Aku tidak pernah mengatakan itu!” bantah Emily. Suaranya keras. Menggelegar.“Diam!” Lucien mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan itu.Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Kepalanya mendadak sakit. Dia seharusnya su

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 17: Alibi Alice

    “Kalian berdua!”Suara Lucien menggelegar, memantul di dinding-dinding kamar pelayan itu.Lucien berdiri di ambang pintu. Tubuhnya yang tinggi itu mengisi seluruh bingkai pintu hingga menghalangi cahaya lampu lorong.Wajah

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 16: Peringatan Keras

    Henry tersenyum canggung melihat Alice. “Ah, Nona Alice. Selamat sore.”Alice hanya melirik Henry sekilas. Dia mengabaikan sapaan itu lalu menatap Lucien dengan mata berkaca-kaca.“Kepalaku sakit sekali sejak siang tadi, Lucien,” r

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 15: Bintang Kota Ashwood

    “Apa?”Alice ternganga lebar. Wajahnya yang basah oleh air mata kini menjadi merah padam karena malu yang mencoba dia tahan.Dia menatap Lucien dengan tatapan tidak percaya, mulutnya membuka lalu menutup seperti ikan yang butuh air.&nb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status