Api kecil dari ranting kering yang dikumpulkan Hans berderak lemah di sudut gua yang sempit. Di luar, badai malam kedua di Tebing Gagak meraung seolah ingin meruntuhkan dinding batu yang melindungi mereka.Lyra menggigil hebat, bibirnya membiru meski ia sudah meringkuk di dekat api. Hans menatapnya dengan cemas, lalu melepaskan mantel bulu tebalnya untuk disampirkan ke bahu wanita itu.“Mendekatlah, Lyra. Jika suhu tubuhmu turun lagi, kau tidak akan kuat mendaki besok,” ucap Hans dengan suara parau karena debu salju.“Aku ... aku baik-baik saja, Hans. Pakai saja mantelmu, kau juga kedinginan,” sahut Lyra dengan gigi yang gemeretak.“Jangan keras kepala. Kita harus berbagi panas tubuh jika ingin selamat sampai fajar,” Hans menghela napas, lalu duduk merapat di samping Lyra, dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang kaku namun hangat.Lyra hanya terdiam dan membiarkan kepalanya bersandar pada zirah dada Hans yang dingin, namun ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil d
Read more