Valerius menarik napas panjang, menatap Elara yang masih terisak pelan. Tanpa peringatan, pria yang dikenal sebagai penguasa Utara yang paling ditakuti itu perlahan menurunkan tubuhnya. Ia berlutut di atas karpet beludru, tepat di depan kaki Elara.“Valerius... apa yang kau lakukan?” bisik Elara, suaranya bergetar karena terkejut.Valerius melepaskan sabuk pedangnya yang berat, meletakkannya di lantai batu di samping lututnya. Ia menengadah, menatap Elara dengan mata abu-abu yang kini sepenuhnya terbuka, tanpa dinding es, tanpa rahasia.“Dua puluh satu tahun aku mencari cara untuk mengembalikan nyawa yang kau selamatkan di pondok itu, Elara,” ucap Valerius, suaranya rendah dan stabil.“Selama ini aku bicara tentang kontrak, tentang suksesi, dan tentang takhta. Tapi semua itu adalah kebohongan yang kupakai untuk melindungimu dari ayahku.”“Jadi, kontrak itu...?”“Kontrak itu tidak pernah a
اقرأ المزيد